(One-Shot Collection) Time Machine – Sunny ver

By        : MissFishyJazz
Cast     :
-       Sunny              as Lee Sunkyu
-       Sungmin          as Lee Sungmin
Genre  : Romance, Angst
Rating  : PG-15
Length : Drabble
Oh ya, nanti ada kata yang digaris bawah, itu adalah kata kunci rangkaian ff Time Machine ini.

 

 

Pabo yeoja!!

Kenapa kau bisa percaya pada namja itu hahh??

Dimana otakmu Lee Sunkyu??

 

Berapa banyak hal yang kau korbankan bagi namja brengsek itu?

Mulai dari cintamu, hidupmu, orangtuamu, keluargamu, bahkan keperawananmu.

Sungmin-aa, aku mencintaimu dengan tulus, kau adalah segalanya bagiku. Kau adalah hidupku sekarang.

Kau adalah satu-satunya yang aku punya sejak aku menolak perjodohan orang tuaku, dan meninggalkan keluargaku.

Aku bahkan rela kabur dari rumah hanya untuk mengejar cintamu, hanya untuk mengikutimu hingga jauh-jauh ke Miami seperti sekarang.

Bahkan kuserahkan milikku yang paling berharga untukmu.

 

Sekarang apa balasanmu hahh?? Mengkhianatiku seperti ini?

Tidur dengan yeoja lain dihadapanku.

Bahkan di kamar kita.

Aku ini yeojachingumu, ingat itu!

 

Aku masih ingat pembicaraanku tadi, dan kau tahu betapa terkejutnya aku saat kau mengatakan,

Kau itu bodoh sekali Lee Sunkyu, siapa yang sudi dengan gadis sepertimu.
Harusnya kau yang meratap, ini kamarku dengan istriku, kau yang tidak sepantasnya berada di kamar ini.
Jangan mengaku sebagai yeojachinguku. Selamanya, yeojaku hanya satu, dia adalah istriku. Ahn Yoon Eun. Kalau kurang jelas, ingat gadisku ini sebagai Lee Yoon Eun! Ingat dan camkan itu!

 

Bisakah itu tidak disebut perkataan? Itu lebih mirip teriakkan bahkan bentakkan. Seumur hidupku, bahkan orang tuaku pun tak pernah berbuat seperti itu padaku.

Mereka selalu berusaha melindungiku.

 

Kini, yang kubisa hanya melangkah pergi dari rumahmu, dengan dada sesak dan penuh beban. Air mata terus tumpah dari kedua ujung mataku. Kemana harus pergi? Hanya pertanyaan itu yang mengisi otakku sekarang. Tapi semuanya bertambah parah, saat muncul pertanyaan baru. Apa orang tuaku masih mau menerimaku?

 

Seandainya waktu bisa diulang kembali, aku ingin pergi ke 3 tahun lalu, saat aku bertama kali bertemu denganmu di sebuah taman hiburan, saat kau menolongku yang dicopet. Aku ingin mengulang waktu hingga aku tak perlu terlalu berterima kasih padamu dan mengantarmu pulang agar aku tak perlu mengenalmu bahkan hingga terlalu mencintaimu. Atau kalau perlu, akan ku ulang waktu agar aku tak perlu pergi ke taman hiburan dan tak menjumpaimu.

 

Kau benar Lee Sungmin, aku memang bodoh. Aku terlalu bodoh untuk mencintaimu. Aku terlalu bodoh untuk yakin pada semua bualanmu, bahwa aku adalah milikmu satu-satunya. Bahwa aku adalah cinta pertama dan terakhirmu. Kuakui itu.

 

Sekarang apa yang harus kulakukan? Kembali kepada orangtuaku? Hidup mandiri di negeri orang tanpa bantuan siapapun? Atau mati?

- THE END –

A/N: FF ini bukan bikinanku readers. Ini ff yg dikirim sama Jessica J dan dia minta izin untuk post ff nya disini. Bagi yg suka jangan lupa komen ya kasian dia udah bikin ff nya susah-susah tapi readers ga pada komen ok? Buat yang mau baca ff karanga dia lebih lanjut kunjungi wordpress pribadinya ya : http://myfishyworld.wordpress.com/

(One-Shot Collection) Time Machine – Jessica ver

By        : MissFishyJazz
Cast     :
-       Jessica            as Jessica Jung
-       Taecyeon        as Ok Taecyeon
Genre  : Romance, Angst
Rating  : PG-13
Length : Drabble
Oh ya, nanti ada kata yang digaris bawah, itu adalah kata kunci rangkaian ff Time Machine ini.

 

 

Jessica Jung. Aku. Siapa yang tak mengenalku?
Artis terkenal lewat film-film dan drama-drama yang melejit.
Kehidupan ke artisanku terasa begitu sempurna, penuh gemerlap, sedang berada di puncak, uang yang melimpah.
Segalanya ada dalam genggamanku.
 
Tapi tidak tentang cinta.
Bukan, bukan karena aku tak pernah menjalin percintaan.
Aku sudah beberapa kali menjalin hubungan itu, tapi satupun, tak ada yang berhasil.
Terlalu banyak kisah yang membuatku bahagia dan hancur dalam sekejap.
 
Tapi aku masih ingat dengan jelas, kisah cintaku dengan namja chingu pertamaku.
Namanya Ok Taecyeon. Seorang eksekutif muda yang mapan, sukses, bergelimang materi, tampan, dan sempurna.
Sempurna. Kuakui hal itu yang membuatku terpikat dalam pesonanya, aku beranggapan bahwa segalanya akan menjadi indah.
Ditambah perhatiannya diawal-awal hubungan kami, hadiah-hadiah berkelas yang dia berikan. Aku semakin yakin akan ada kebahagian kekal di hubungan kami.
Tapi ternyata aku salah.
 
Justru semuanya hancur, hancur karena kesibukkannya.
Hancur karena sikap workaholicnya.
Dia selalu berkata bahwa semua kerjanya untuk membangun pernikahan yang mapan dan berkecukupan denganku kelak.
Dalam rentang waktu 1 tahun, aku selalu berusaha sabar menghadapinya. Tapi segalanya berakhir malam itu. Yang kuingat, sektiar 1 bulan kami tak bertemu, aku hanya ingin mengetahui keadannya saat itu. Akhirnya mati-matian kuhubungi dia, dan aku merasa senang sekali saat dia mengatakan akan bertemu denganku malamnya.
 
Aku berdandan secantik mungkin malam itu. TSaat melangkah keluar dari rumahku, kulihat sebuah mobil terparkir dengan tepat di depan rumahku. Kulangkahkan kakiku memasuki mobil Taecyeon, baru saja aku ingin menyapa, segalanya musnah.
Yang kulihat hanya supir yang sedang duduk dengan rapi di posisinya, dan sebucket bunga mawar di jok tengah. Kutenangkan pikiranku, mungkin saja mobil ini akan mengantarkanku ke tempat Taecyeon.
 
Hahahaha.
Pikiran bodoh macam apa itu Jessica Jung?
Lihatlah dirimu saat itu.
Menunggu 4 jam lebih di depan kantor Taecyeon.
Ratusan kali kuhubungi ponselnya, bahkan mengiriminya pesan. Hingga akhirnya kau tersadar, aku lelah. Itu yang sebenarnya selama ini kurasakan tapi tak pernah kuakui.
Kutulis pesan singkat, untuknya, seandainya dia membalas, atau setidaknya besok dia datang ke rumahku, akan kembali kuhapus rasa lelah, tapi seandainya tidak, biarlah kisah ini berakhir disini.
 
Aku lelah atas semuanya. Aku pulang. Terima kasih untuk semuanya.
 
Kebodohanmu Jessica, bahkan esoknya aku menunggu hingga larut, dia sama sekali tidak datang atau membalas pesanku.
 
Baiklah, Taecyeon ini jalan yang kau ambil kan?
Untuk segalanya aku berterima kasih, selamat tinggal Presdir Ok.
 
Seandainya waktu bisa diulang kembali, aku ingin berada disampingnya. Mengatakan bahwa aku mencintainya, mencintai dia apa adanya. Satu tahun bersamanya, membuatku mampu menerimanya apa adanya. Tidak perlu harta berlimpah, dan kehidupan mewah, asalkan ada dia dan aku dalam kehidupan penuh cinta, itu sudah lebih cukup untukku. Tapi apa salahnya jika manusia merasa lelah? Manusia masih punya batas kesabarankan?
 
- THE END –
 
 

A/N: FF ini bukan bikinanku readers. Ini ff yg dikirim sama Jessica Jasmine dan dia minta izin untuk post ff nya disini. Bagi yg suka jangan lupa komen ya kasian dia udah bikin ff nya susah-susah tapi readers ga pada komen ok? Buat yang mau baca ff karanga dia lebih lanjut kunjungi wordpress pribadinya ya : http://myfishyworld.wordpress.com/

(One-Shot Collection) Time Machine – Taeyeon ver

By        : MissFishyJazz

Cast     :

-       Taeyeon as Kim Taeyeon

-       Leeteuk as Park Jungsoo

Genre  : Romance, Angst

Rating  : PG-13

Length : Drabble

Oh ya, nanti ada kata yang digaris bawah, itu adalah kata kunci rangkaian ff Time Machine ini.

——————————————————————————————–

Bahagia. Hanya itu yang ada dalam pikiranku sekarang. Jika ditanya alasannya mungkin aku hanya bisa diam. Diam. Dan akhirnya tetap Diam. Mungkin aku gembira karena mawar-mawar ini? Mungkin saja.

Mawar merah. Indah. Lambang pernyataan cinta. Dulu aku menyukai bunga lili putih, tapi akhirnya sekarang aku justru mencintai mawar merah. Alasannya? Karena dia.

Dia, pria yang mencintaiku apa adanya,
Dia yang mencintaiku dengan lembut dan penuh perasaan.
Dia yang setiap hari memberiku bunga mawar merah karena tidak pernah tahu apa bunga kesukaanku.
Dia yang setiap waktu membuatku tersenyum.
Dia yang setiap hari membuatku tertawa.
Dia yang memperhatikanku.
Dia yang menghiburku disaat aku sudah terpuruk.
Hanya dia, dia yang selalu berada di sampingku.

Park Jungsoo, nama yang indah kan?

Dia adalah satu-satunya namja yang mengerti dan menerimaku apa adanya aku. Tidak pernah melihat kepopuleranku sebagai anak orang kaya dulu, yang dengan tulus menjaga dan menyayangiku, bahkan melebihi orang tua super sibukku.

Dia adalah namjachingu pertamaku dan terakhir. Setidaknya untuk saat ini. Kami berpisah karena 4 tahun lalu saat kelulusan senior high school, dia yang cerdas mendapat beasiswa kuliah di Cambridge, kampus yang sejak entah kapan selalu dia ceritakan padaku sebagai universitas dambaannya. Terlalu banyak memoriku dengannya, hingga tak mampu kuungkapkan.

Atau aku sesalkan? Aku menyesal melepasnya dulu tanpa embel-embel ‘Saranghae-yo’ atau ‘Aku akan tetap menunggumu.’ Semuanya terasa sesak setiap mengingat momen itu.

Seandainya waktu bisa diulang kembali, aku ingin kembali di 4 tahun lalu, saat aku melepasnya di Incheon, aku ingin mengatakan bahwa aku ingin menyusulnya. Setidaknya aku hanya ingin mengatakan ‘Saranghae-yo, aku akan setia menunggumu.’ Atau kata-kata lain yang setidaknya mampu meyakinkan dia agar tetap menjaga kontak dan hubungan diantara kami.

- THE END –

A/N: FF ini bukan bikinanku readers. Ini ff yg dikirim sama Jessica Jasmine dan dia minta izin untuk post ff nya disini. Bagi yg suka jangan lupa komen ya kasian dia udah bikin ff nya susah-susah tapi readers ga pada komen ok? Buat yang mau baca ff karanga dia lebih lanjut kunjungi wordpress pribadinya ya : http://myfishyworld.wordpress.com/

Gomawo~

[OneShot] Dear Diary

Dear Diary
Shim Changmin - Choi Sooyoung 

Dear diary,
Cuaca hari ini benar-benar cerah. Aku memutuskan untuk tinggal diluar lebih lama namun ibu melarangku dan membawaku masuk ke dalam. Kau tahu persis betapa aku benci hanya berdiam diri di dalam kamar kan?

Huhh~ Tapi aku juga tidak bias berbuat apa-apa. Aku tahu ibu hanya mengkhawatirkanku makanya aku tidak mau melawan kata-katanya. Aku hanya takut dia sedih. Maka disinilah aku sekarang. Aku tidak memiliki siapa-siapa selain ibu di dunia ini… dan kau tentunya.

Aku tidak tahu kepada siapa lagi bisa mencurahkan segala perasaanku selain padamu. Jika aku ceritakan masalah-masalah dan keluhanku kepada ibu maka dia akan sedih. Aku benci melihatnya sedih hanya karenaku.

Jadi aku harap kau tidak akan pernah bosan mendengar ocehanku ya~ Kau juga harus berjanji akan selalu ada disampingku dan tidak pernah meninggalkanku sampai akhirnya aku yang pergi meninggalkanmu duluan, aracchi? Yaksuk


———————————————–
Dear diary,

Hari ini aku mengalami sesuatu hal yang membuatku kesal! Aku bertemu dengan seorang pria tinggi yang benar-benar menyebalkan! Dia selalu melihatku dengan mata besarnya, seakan-akan dia ingin memakanku. Apa dia tidak pernah belajar sopan santun? Walaupun dia sangat tinggi, tapi dia tidak tampan. Matanya besar, bibirnya tipis dan lebar dan dia juga tidak pernah tersenyum atau tertawa. Bukankah itu sangat menyebalkan? AAAH! AKU MEMBENCINYA!


———————————————–
Dear diary,

Kenapa akhir-akhir ini aku selalu sial? Aku bertemu lagi dengan pria itu hari ini! Kali ini dia tidak hanya mendelik padaku, dia juga membentakku! Bukan salahku jika aku memandangnya dengan tatapan aneh, wajahnya saja sudah aneh, kelakuannya apa lagi. Dan suaranya?? Aww… sama sekali bukan suara seorang pria yang berwibawa seperti di dalam drama! Dia berteriak dengan suara cemprengnya! Aaah, aku benci sekali jika mengingatnya.

Dia juga mengataiku gadis yang tidak tahu sopan santun. Waah~ chinja! Bukan aku duluan yang mendelik kepada orang lain! Awas saja jika aku bertemu lagi dengannya, aku pasti akan menghajarnya habis-habisan!


———————————————–
Dear diary,

Hari ini aku kembali membuat omma sedih. Aku pingsan dan harus dirawat di rumah sakit. Omma bilang bahwa aku tidak boleh memikirkan hal yang aneh-aneh dan harus banyak beristirahat, tapi bagaimana mungkin aku bias melakukan hal itu setelah membuat omma sedih? Aku benar-benar anak yang tidak berguna!


———————————————–
Dear diary,

Lagi! Aku bertemu lagi dengan pria itu! Kau masih ingat dia kan? Pria tinggi dengan mata besar dan suara nyaring. Kenapa dunia ini begitu sempit? Bahkan ditempat seperti ini pun aku bias bertemu dengannya. Dia menatapku dengan pandangan yang sulit dijelaskan, tapi dia tidak lagi mendelik atau berteriak padaku, tapi tetap saja dia juga tidak tersenyum atau menyapaku.

Pria itu… aku bias melihat kesedihan dari matanya. Yah, walaupun matanya besar dan mendelik seperti ikan tapi tetap saja sesuatu yang ada di dalam matanya membuatku penasaran dengannya.

Apakah aneh jika dalam hatiku aku sedikit berharap agar bias bertemu atau mungkin bicara padanya?


———————————————–
Dear diary,

Hari ini aku sudah keluar dari rumah sakit! Aaah, betapa nyamannya berada di rumah. Omma menyuruhku untuk tidak keluar rumah dulu beberapa hari ini. Baiklah, walaupun aku tidak menyukai ide itu namun aku harus menurutinya. Ingat, aku tidak mau membuat omma sedih, kan?


———————————————–
Dear diary,

Waah, sudah lama sejak terakhir kali aku menulis disini. Coba kuingat-ingat! Hm.. mungkin sekitar 3 bulan? Kekeke~ Mian. Kau tahu kan aku harus menjalani beberapa ‘urusan’ bersama omma dan itu sangat memakan waktu serta tenaga ku tapi sebagai bonusnya aku bisa lebih lama bersamamu. Bukankah itu bayaran yang pantas? Aku tahu kau pasti bahagia mendengar hal ini, bukan?

Oh ya, kau masih ingat kan pria tinggi bermata besar itu? Selama 3 bulan terakhir ini aku selalu bertemu dan coba kau tebak apa yang terjadi? Ayo tebak… Ah, kau benar-benar payah! Baiklah, aku menyerah. Aku dan dia akhirnya berteman. Yaaa, walaupun butuh sedikit usaha namun akhirnya aku bisa bicara dengannya.

Ternyata dia tidak seburuk yang selama ini aku pikirkan. Dia memiliki pribadi yang lumayan baik ketika kau sudah mengenalnya, tapi tetap saja, walaupun begitu aku masih takut dengan mata besarnya. Tapi aku benar-benar tulus ketika bilang bahwa dia adalah orang yang baik.

Ayahnya dirawat di rumah sakit karena sesuatu hal jadi selama beberapa bulan ini dia selalu menjaganya. Aku rasa itu lah hal yang membuatnya sedih. Oh ya, apa aku sudah bilang bahwa dia lebih tua 2 tahun dariku?

Hmm… walaupun dia tidak begitu tampan tapi harus aku akui bahwa senyum nya mirip dengan Jerry Yan ajhussi!!! Waah, kau pasti sekarang sedang membayangkan senyumannya kan? Kekeke~ Kau boleh mengambilnya tapi tidak dengan Jerry Yan ajhussi ya, dia milikku!

———————————————–
Dear diary,

Hari ini, sesuatu yang buruk telah terjadi. Ajhussi… dia tidak bisa bertahan. Aku menerima kabar ini dari oppa semalam dan sejak tadi pagi aku berada di rumahnya untuk menemaninya. Oppa banyak menangis hari ini. Melihatnya menangis membuatku memikirkan omma. Aku takut nantinya omma akan seperti itu.

Walaupun banyak menangis tapi oppa tetap tersenyum sesekali padaku, walaupun aku tahu itu adalah senyuman yang dipaksakan. Aku bilang padanya agar dia tetap kuat dan bisa melanjutkan hidupnya dengan baik dan aku berjanji akan terus selalu disampingnya selama aku mampu. Diary, aku pikir aku sudah mulai mencintai oppa.


———————————————–
Dear diary,

Celaka! Aku benar-benar sudah jatuh cinta pada oppa! Aish chinja! Apa yang sudah ku pikirkan? Bobo! Bagaimana mungkin aku mengungkapkan perasaanku padanya tadi sore? Aku benar-benar babo! Babo! Babo!
Aah~ Apa yang harus aku lakukan jika nanti aku bertemu dengannya? Aku benar-benar bodoh!!


———————————————–
Dear diary,

Aku tidak tahu apakah aku harus malu atau senang, atau malah kedua-duanya!! Hari ini oppa dating ke rumah. Aku menolak untuk menemuinya tapi omma mempersilahkannya masuk ke dalam kamarku! Aish~ omma chinja!
Aku rasa wajahku semerah tomat tadi dan itu benar-benar membuatku malu.

Tapi oppa mengatakan sesuatu yang membuatku bahagia selama aku hidup di dunia ini. Oppa bilang dia juga menyukaiku!!! Bukankah ini hebat? Ah, hidupku benar-benar baik.

Apa kau tahu? Oppa tadi juga memelukku dan dia juga MENCIUMKU!! Aaahh, molla molla!!!


———————————————–
Dear diary,

Diary, hari ini aku sudah resmi dilamar oleh oppa. Dia bilang dia ingin menghabiskan hidupnya bersamaku. Jujur saja, aku sempat ragu beberapa saat namun omma menyetujui jika aku ingin menikah. Omma bilang oppa adalah pria terbaik yang pantas untuk mendapatkanku.

Walaupun tadi omma lagi-lagi menangis karenaku, tapi setidaknya kali ini dia menangis karena bahagia, bukan karena sedih seperti biasanya. Oppa, gumawo. Kau telah membuatku kembali hidup dan memberiku kesempatan untuk membuat omma bahagia.


———————————————–
Dear diary,

Eotekke? Besok adalah hari pernikahanku! Tidakkah kau pikir ini terlalu cepat? Sekarang sudah pukul 3:24 am tapi aku masih tetap tidak bisa tidur! Bagaimana jika besok aku melakukan kesalahan? Bagaimana jika besok oppa membatalkan pernikahannya denganku dan pergi meninggalkanku? Tapi aku yakin bahwa oppa tidak akan melakukan hal itu. Aku tahu—annyi, aku yakin bahwa dia mencintaiku dengan tulus.

Aku berharap aku tidak akan melakukan kesalahan apapun besok dan semuanya akan berjalan lancar dan baik-baik saja.


———————————————–
Dear diary,

Akhirnya aku telah resmi menjadi istri seseorang! Aku dan oppa telah resmi menikah! Kau ingatkan apa yang dulu aku katakana tentangnya? Mata besar seperti ikan, bibir tipis yang lebar denga suara nyaring? Kau juga ingat kan betapa aku membenci hal-hal itu dan segala sesuatu yang menyangkut tentang dirinya? Hahaha~ aku rasa dulu aku terlalu naïf!

Sekarang semuanya terasa berbeda. Matanya… ketika dia melihatku maka aku bisa merasakan cintanya yang besar untukku melalui matanya. Kata-kata yang dikeluarkan dari bibirnya pun terdengar begitu manis dan suaranya… aku sangat suka ketika dia menyanyi untukku. Oppa selalu bernyanyi untukku dan suaranya pun sangat merdu. Aku heran kenapa dia tidak menjadi penyanyi.
Aaah~ Tidakkah berlebihan jika ku katakan bahwa suamiku adalah pria yang sempurna?


———————————————–
Dear diary,

Hari ini aku sudah membuat seseorang—ah annyi, 2 orang sedih. Aku sudah membuat dua orang yang paling aku cintai sedih dan meneteskan air mata mereka untukku. Kau tahu aku sangat membenci hal itu kan?


———————————————–
Dear diary,

Mereka bilang… sudah tidak ada harapan. Aku harus merelakannya. Mereka bilang tidak ada lagi usaha yang bisa ditempuh. Aku tahu bahwa semuanya akan sia-sia seperti ini tapi seperti yang omma bilang, tidak ada salahnya jika kita mencoba kan? Walaupun semua orang sudah putus asa tapi aku sama sekali tidak menyesal, marah atau takut. Justru aku sangat bahagia sekarang.

Disaat-saat sulit seperti ini aku memiliki orang-orang yang aku cintai disisiku. Omma, oppa dan… kau. Tidakkah kau berpikir bahwa aku adalah manusia paling beruntung yang pernah diciptakan oleh Tuhan? Jika dulu aku selalu berpikir bahwa Dia selalu bersikap tidak adil padaku tapi sekarang aku mengerti bahwa dia memiliki rencana lain untukku. Disaat-saat seperti ini aku memiliki omma dank au disampingku serta aku dipertemukan dengan pria yang sangat aku cintai.

Aku rasa semua ini memang sudah menjadi rencana-Nya. Menerima hal ini dan bertemu dengan orang-orang baru.

Diary, aku pernah bilang bahwa kau tidak boleh meninggalkanku sampai akhirnya aku meninggalkanmu kan? Diary, kau pasti bahagia sekarang kan? Aku memutuskan untuk melepaskanmu! Mianhae karena selama ini kau harus menahan dirimu karena mendengar ocehan-ocehanku. Kau tahu, aku tidak memiliki sahabat selain dirimu. Dan mianhae, aku harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Aku tahu kau akan kesepian tapi kau tidak boleh menangis! Kau harus menjaga omma dan oppa untukk, aracchi?

Dan karena ini terakhir kalinya aku menulis disini, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepadamu. Karena kau lah aku bisa mengusir sedikit rasa kesepianku. Ah, aku tidak seharusnya berkata sedikit. Kau telah mengusir banyak rasa kesepianku!

Terima kasih diary, terima kasih karena kau sudah mampir dalam hidupku.

p.s: Bisakah aku minta bantuan darimu untuk terakhir kalinya? Bantu aku menyampaikan surat yang sudah ku tulis untuk oppa ya. Gumawo diary, annyeong… saranghae~

 “Changmin-ah!” suara ommo-nim terdengar dari luar. Aku buru-buru berdiri dan menghapus air mata dari wajahku.

“Changmin-ah, aku sudah mencarimu kemana-mana ternyata kau ada disini.” sebuah senyuman tergambar di wajah tua nya.

“Ne ommo-nim. Mianhae, aku hanya ingin duduk-duduk disini sebentar.” jawabku. Ommo-nim berjalan masuk dan menebarkan pandangannya kesekeliling ruangan.

Dia menutup matanya dan menghembuskan nafas secara perlahan. “Dia menghabiskan waktunya di kamar ini hampir 24 jam setiap harinya. Aku merasa bersalah karena aku tidak membiarkannya bermain diluar dulunya. Aku tahu dia benci dikurung dikamar tapi aku tetap saja melakukan hal itu.” ommo-nim berucap pelan namun tidak ada air mata yang keluar dari matanya.

“Tapi untung saja dia bertemu denganmu.” senyumnya kembali mengembang. “Aku benar-benar senang diakhir hidupnya dia bisa bertemu denganmu dan menemukan kebahagiaannya. Gumawo Changmin-ah.” Ommo-nim memelukku dan akhirnya tangisannya pecah.

“Annyieyo ommo-nim, seharusnya aku yang berterima kasih walaupun dalam waktu yang singkat namun aku bisa bertemu dengannya.”

Ommo-nim melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. “Ah, aku menangis lagi!” ujarnya. “Changmin-ah, sebgaiknya kita pergi sekarang, aku takut nanti kita akan kemalaman.”

Aku mengangguk dan memasukkan diary nya ke dalam tas ku. Chagiya, aku datang.

* * *

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika aku dan ommo-nim selesai berkunjung. Aku memutuskan untuk menetap disini beberapa saat lagi sementara ommo-nim memutuskan untuk pulang ke rumah.

Aku duduk disamping makamnya. dan ku keluarkan diary yang tadi aku ambil dari dalam tas dan kemudian sebuah lipatan kertas kecil jatuh dari dalamnya.

Aku mengernyitkan dahiku dan membuka lipatan itu dengan perlahan dan ku dapati sebuah surat dengan tulisan tangan didalamnya.

Changmin oppa~
Saranghaneun Changmin oppa~

Apa kau baik-baik saja selama aku tidak ada? Kau tidur dengan benar kan? Kau makan dengan teratur kan? Aah, aku rasa aku terlalu banyak mengomel. Aku tahu bahwa kau akan hidup dengan baik karena aku selalu mengawasimu!

Oppa, mianhae karena aku lebih dulu meninggalkanmu. Aku tahu aku adalah istri yang egois. Jujur saja, istri macam apa yang meninggalkan suaminya terlebih dulu? Aku benar-benar istri yang buruk, benar kan? Sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu lebih panjang bersamamu. Ada disampingmu ketika kau bangun di pagi hari, memasak sarapan untukmu, menyiapkan baju untukmu, mengantarmu ke depan pintu setiap kali kau berangkat kerja, mengasuh anak-anakmu, anak-anak kita. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terwujud, benar kan? Sepertinya Tuhan memiliki rencana lain untuk kita.

Dan juga, gumawo oppa. Kau tahu, ketika pertama kali melihatmu aku benar-benar membencimu. Kau terus mendelik dan melototiku dengan mata besarmu, kau juga sangat tinggi dan terlihat seperti debt collector (ok, mungkin aku sedikit berlebihan) tapi ternyata kehadiranmu di dalam hidupku adalah hal terindah yang pernah diberikan Tuhan untukku. Karena kau, untuk pertama kalinya aku bisa membuat ibuku bahagia. Karena kau, untuk pertama kalinya aku berpikir bahwa Tuhan itu adil. Karena kau, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku hidup memanglah untuk sesuatu.

Kau tahu, ketika aku melihatmu aku sadar bahwa kau lah keajaiban yang selama ini aku minta kepada Tuhan. Ketika aku merasa hidupku sudah tidak memiliki arti apa-apa, kau datang dan memberiku harapan dan cinta. Ayolah, aku tidak pernah menyangka bahwa ada seorang pria yang akan mencintai wanita yang sudah 3 tahun mengidap kanker otak sepertiku. Tapi sekali lagi, aku salah!

Dan juga, oppa, walaupun aku berpesan agar kau selalu mengingatku dan menyimpanku di dalam hatimu bukan berarti aku tidak ingin kau memiliki kehidupan sama sekali.

Sudah saatnya kau mencari kebahagiaanmu, oppa. Bukalah hatimu untuk wanita lain. Jika kau yakin bahwa dia adalah wanita yang baik dan tepat untukmu maka kau harus mendapatkannya sebelum dia di rebut oleh orang lain. Hidup bahagia, memiliki keluarga dan anak-anak yang lucu adalah impianku. Karena aku tidak bisa mewujudkan impian itu maka bantulah aku mewujudkannya. Aku akan sangat bahagia jika kau bisa memulai lembaran hidup yang baru dan memiliki sebuah keluarga yang bahagia.

Kau tidak perlu mengkhawatirkanku atau omma. Aku yakin dia akan mengerti sama sepertiku. Aku mengatakan hal ini bukan karena aku ingin kau melupakanku tapi justru karena aku ingin kau bahagia dan terus mengingatku

Aku ingin nantinya ketika kau memiliki keluarga baru dan disaat kau melihat istri dan anak-anakmu kelak maka kau akan ingat bahwa kau telah membantuku mewujudkan keinginan serta impianku selama ini.

Oppa, aku mau kau berjanji untuk selalu hidup bahagia dan membuka hatimu untuk orang-orang disekitarmu. Tidak perlu takut dan khawatir oppa, aku tahu kau menempatkanku di tempat yang paling spesial di hatimu. Aku akan sangat bahagia jika kau juga bahagia.

Dan jangan khawatir oppa, aku juga tidak akan melupakanmu karena aku akan selalu ada di dalam hatimu.

p.s: aku harap kau tidak pernah menyesal karena aku telah masuk ke dalam kehidupanmu sehingga kau mengenalku 

p.p.s: Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu karena aku tahu persis kau tidak suka hal itu kan?

Saranghae
- Shim Sooyoung -

Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku dan menangis dengan keras. Sooyoung, aku sama sekali tidak pernah menyesal telah mengenalmu, aku bahkan berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimkan dirimu ke dalam hidupku.

Walaupun aku marah kepada Tuhan karena mengambilmu dari sisiku tapi aku tetap bersyukur karena dia memberiku kesempatan untuk mengenalmu, mengenal seorang wanita cantik bernama Choi Sooyoung.

“Sooyoung-ah!” aku berteriak. “Kau mendengarku kan? Kau tahu bahwa aku tidak pernah menyesal telah mengenalmu kan? Kau adalah hal yang paling indah yang pernah ada dalam hidupku! Setelah appa pergi, aku merasa Tuhan masih menyayangiku karena Dia mengirimmu ke sisiku. Sooyoung-ah! Buin-ah! Bugusippo!”

Aku menangis keras. Hatiku perih ketika aku mengingat Sooyoung. Kenapa dia begitu cepat pergi? Kenapa dia tidak bisa berada di sisiku lebih lama lagi?

“Sooyoung-ah, aku baik-baik saja disini jadi kau jangan khawatir.. Aku juga tidak akan pernah melupakanmu sampai kapanpun karena kau… Kau adalah Shim Sooyoung ku, sampai kapanpun…”

-THE END-

Annyeong~
Sorry yah aku ingkar janji ke reader semua buat nulis sering-sering abis kalian tahu kan, mau lebaran jadi aku semakin sibuk. Nah, ff kali ini aku persembahin buat reader yang adalah ChangSoo shipper aka Sage-deul atau yang pada suka sama pairing ChangSoo.

Ga tahu kenapa aku suka banget nulis ff yang cast nya Sooyoung, terutama cast ini, aku lagi tergila-gila banget ama mereka. So, enjoy reading ya chingu-deul. jangan lupa buat komen, ok?

ps: nama Sooyoung disini aku ganti dan tulis sebagai ‘Shim Sooyoung’ karena Sooyoung kan ceritanya udah married sama Changmin jadi nama keluarga/belakang nya diganti dari Choi ke Shim. Ngerti kan? Ngerti doonnk~ Reader disini kan pinter-pinter. kekeke~

Read it, Love it and COMMENT!

[OneShot] Happily After After? (Sequel: Truth Hurt)

Happily After After?
Choi Sooyoung - Shim Changmin

“ANDWE!!!” Sooyoug menjerit kencang seraya dia terbangun dari tidurnya.

“Sooyoung-ah.” Jessica yang merupakan roomate Sooyoung juga ikut terbangun dan berjalan mendekati sahabatnya. “Sooyoung-ah? Sooyoung-ie, kau kenapa?”

“Andwe!! ANDWE!!” Sooyoung menggeleng-geleng kepalanya dengan cepat dan kembali menjerit.

“Susshh…” Jessica memeluk tubuh Sooyoung dan mengelus-elus kepala gadis itu. “Gwencanha… Gwencanha. Semuanya hanya mimpi buruk.” Jessica berbisik sementara Sooyoung mengeluarkan suara isak tangisnya. Jessica sama sekali tidak tahu apa yang menyebabkan sahabatnya seperti ini tapi dia tahu pasti bahwa Changmin pasti bersangkutan dalam hal ini.

——————————————–

“Apa yang kau mimpikan semalam, Sooyoung-ah?” tanya Jessica di pagi  harinya. Sooyoung yang baru bangun tidur memijit-mijit keningnya pelan dan masih bergelut dengan sakit kepalanya.

“Obseo.” jawab Sooyoung singkat. Jessica yang merasa tidak puas atas jawaban Sooyoung langsung berdiri dan duduk disamping gadis jangkung itu. “Kau adalah sahabatku. Kita sudah bersahabat selama 10 tahun ini. Ceritakan padaku, apa hal yang menganggumu semalam?”

Sooyoung menutup matanya sambil menghembuskan nafas yang panjang dan berat. “Aku bermimpi Changmin oppa dan Yeonhee onnie, mereka berdua…” kata-kata Sooyoung terhenti, dia tidak sanggup untuk menceritakan hal ini kepada Jessica, terlalu berat.

“Mereka berdua??”

Sooyoung kembali mengeluarkan nafas beratnya, “mereka berdua berciuman dan Changmin oppa mengacuhkanku bahkan ketika aku melihat mereka.”

Jessica menatap sahabatnya dengan prihatin. Dia tidak tahu keadaan Sooyoung dan Changmin akan serumit ini. Walaupun kebenarannya sudah terungkap dan semua orang di SM sudah tahu alasan Sooyoung memutuskan hubungannya denga Changmin namun kenyataannya mereka berdua tidaklah kembali menjadi sepasang kekasih seperti dulu lagi.

Tidak seperti Yunho yang memutuskan untuk memaafkan Sooyoung dan kembali menjadi ‘kakak’ yang baik untuknya, Changmin adalah kebalikan darinya. Changmin menolak untuk berbicara bahkan untuk bertatap muka dengan Sooyoung. Sikap Changmin yang biasanya manja dan kekanak-kanakan pada Sooyoung sekarang berubah menjadi dingin. Sudah tidak terhitung berapa kali Yunho menasehati Changmin agar memaafkan Sooyoung namun Changmin tetap saja tidak mengacuhkan kata-katanya.

“Kau tahu itu semua hanya mimpi. Changmin oppa sangat mencintaimu dan dia HANYA mencintaimu. Jadi mulai sekarang kau harus membuang prasangka buruk dan terus berusaha keras untuk mendapatkan hatinya lagi, arasso?” hibur Jessica. Sooyung mengangkat kepalanya dan memberikan tatapan ‘terimakasih’ nya pada gadis itu. Jessica tersenyum dan memberikan sebuah pelukan kilat kemudian meninggalkan Sooyoung dan berjalan keluar kamar.

Jessica benar, aku harus membuang prasangka burukku dan kembali seperti dulu lagi.

* * *

“Soo!” sebuah tangan memukul pelan pundak Sooyoung yang membuat gadis itu menjerit dan kaget luar biasa.

“OPPA!” gadis itu memukul lengan orang tersebut dengan keras sehingga dia meringis.

“Aww.. Tenaga mu seperti tenaga kuli bangunan.” ucapnya pelan dengan cengiran yang terpahat di wajahnya. Sooyoung mengerutkan bibirku dan berjalan menjauhinya.

“Ya shiksin!” dia kembali berteriak dan berlari kecil untuk menyamakan langkahnya. “Aku dengar  debut kalian di Jepang sukses besar.”

“Tentu saja! Selama ada aku maka semuanya akan berubah menjadi hit!” jawab Sooyoung bangga.

“Aigoo~ Kalau bukan karena Taeng, Sica dan Yoona maka…”

“Maka apa?” Sooyoung mengepalkan tinjuku dan melotot pada sosok yang ada dihadapannya.

“A-annya.. Kalau bukan karena uri Sooyoung-ie maka SNSD tidak akan terkenal di Jepang seperti sekarang.” dia tersenyum lebar. Sooyoung mengangguk-angguk dan tertawa puas kemudian melingkarkan lengannya di pundak orang itu.

“Bagus oppa.”

“Sooyoung, kenapa kau selalu bersikap seperti gangster? Kau membuat semua orang takut.” katanya.

“Chinja? Termasuk kau, oppa?”

“Hah! Anyyieyo! Cih~ Aku tidak pernah takut padamu, Choi Sooyoung.” elaknya.

“Hahaha…” tawaku meledak. “Aku tidak tahu bahwa seorang evil Kyu bisa takut padaku!” Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“YA! Siapa bilang aku takut padamu?” Kyuhyun  mendelikkan matanya pada Sooyoung.

“Shikkero! Kau berisik sekali!” Kyuhyun memukul pelan pundak Sooyoung  kemudian berjalan dengan langkah cepat.

“Oppa, kau tidak perlu malu jika kau memang merasa takut padaku.” teriak Sooyoung yang kali ini berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Kyuhyun.

“Aku sudah bilang aku tidak tahut padamu!” balas Kyuhyun, wajahnya memerah karena malu.

“Aissh~ Arasso arasso. Cho Kyuhyun tidak takut pada Choi Sooyoung.” ujar Sooyoung lantang membuat Kyuhyun memperlambat langkahnya dan memutar kepalanya dan tersenyum. “Begitu baru benar!” ujarnya bangga dan mengelus pelan kepala Sooyoung.

“Oppa, aku bukan anak kecil lagi jadi kau tidak perlu meng-” Sooyoung terdiam melihat sosok tinggi dengan wajah dingin yang berdiri sekitar 5 meter di depannya. Mata Sooyoung kembali merah dan berair lengkap dengan kesedihan yang terpancar dari mata bulatnya.

Kyuhyun yang berdiri membelakangi pria itu heran dengan ekspresi wajah Sooyoung yang tiba-tiba berubah. Dengan sebuah cengira yang masih terpahat di wajahnya, dia memutar balik tubuhnya dan mendapati Changmin yang sedang berdiri mengamati mereka berdua.

Senyuman Kyuhyun memudar bahkan sudah benar-benar terhapus ketika mendapati tatapan mata Changmin yang tajam. Kyuhyun tahu betul bahwa melihat Sooyoung dengan pria lain adalah hal paling terakhir yang diinginkan Changmin saat ini namun di sisi lain dia juga tidak tahan melihat Sooyoung terus menerus sedih dan menangis maka dari itu dia ingin menghibur Sooyoung sebisa mungkin.

Tanpa berkata apa-apa, Changmin menggerakkan kakinya, melangkah mendekati mereka berdua. Hati Sooyoung berdebar kencang seiring air mata yang kembali terjatuh. Jauh dalam hatinya, ia ingin sekali melangkah, berlari dan memeluk erat sosok yang amat dia rindukkan tapi sesuatu di dalam hatinya menahannya untuk melakukan hal itu.

Dekat… dekat dan semakin dekat jarak antara Changmin dan Sooyoung namun Sooyoung baru menyadari bahwa Changmin tidak, tidak sedikitpun, melihat maupun melirik Sooyoung. Changmin berjalan melewati Sooyoung tanpa berkata apa-apa, tanpa melihatnya sedikitpun.

Air mata kembali jatuh dengan deras di pipi mulusnya. Awalnya Sooyoung mengeluarkan suara isakkan kecil namun akhirnya tangisnya meledak seiring tubuhnya yang jatuh ke lantai. Kyuhyun yang masih shock dengan perlakuan Changmin kepada Sooyoung barusan hanya bisa berjongkok dan memeluk tubuh Sooyoung yang masih sesegukkan.

* * *

“Changmin-ah.” panggil Kyuhyun ketika dia masuk ke dalam ruang latihan DBSK.

“Kyuhyun-ah.” sambut Yunho. Kyuhyun sama sekali tidak peduli dengan senyum manis dan perlakuan ramah Yunho padanya. Dia hanya berjalan lurus ke arah Changmin dan memukul wajah sahabatnya dengan keras.

“KYUHYUN-AH!” Yunho berteriak kaget dan langsung menghampiri Kyuhyun dan Changmin yang sudah jatuh tersungkur ke lantai.

“Kyuhyun-ah, waeire?” tanya Yunho bingung.

“Sebaiknya kau tanya saja kepada bajingan ini.” jawab Kyuhyun  pelan kemudian berjalan meninggalkan Changmin dan Yunho.

“Kenapa? Apa kau masih mencintainya, Kyu? Apa kau masih mencintainya seperti 5 tahun yang lalu?” kata-kata Changmin berhasil menghentikan langkah Kyuhyun. Dengan cepat Changmin berdiri dan mendekati Kyuhyun. Dengan kasar Changmin memutar tubuh Kyuhyun sehingga mata mereka berdua bertemu.

“Katakan padaku, Kyu. Apa kau masih mencintainya seperti kau mencintainya 5 tahun yang lalu?” tanya Changmin dengan suara yang amat rendah. Kyuhyun melebarkan matanya, terkejut bahwa Changmin benar-benar mengatakan hal ini padanya.

“Ah, ternyata memang benar! Kau tidak pernah melupakannya kan? Setelah 5 tahun yang lalu kau bilang kau akan merelakannya untukku tapi nampaknya kau tidak menepati kata-katamu kan?” Changmin mengangkat sebelah alisnya.

“Tapi mau bagaimana lagi? Gadis yang kau cintai selama 5 tahun ini hanya mencintaiku.” Changmin menyeringai.

“Ya, sayangnya gadis yang ku cintai mencintai orang yang tidak lagi mencintainya.” balas Kyuhyun dengan suara dalamnya.

“Aku masih mencintainya. Aku akan terus mencintainya.” balas Changmin.

“Kalau kau masih mencintai dan akan terus mencintainya maka berhentilah menyiksanya. Apa kau tidak prihatin dengan keadaannya sekarang? Apa kau tidak sadar tubuhnya bertambah kurus? Apa kau tidak sadar bahwa dia tidak se-ceria dulu lagi?” Kyuhyun menaikkan suaranya.

“Justru karena itu, karena aku masih mencintainya maka aku ingin dia merasakkan perasaan yang aku rasakan. Aku ingin dia merasakan bagaimana sakitnya ketika orang yang dia cintai bersikap dingin dan tidak peduli padanya, sama seperti yang dulu pernah dilakukannya terhadapku.”

Kyuhyun mengeluarkan tawa kecil dan menggeleng-geleng kepalanya, “annyi, itu bukan cinta. Itu balas dendam. Cinta tidak mengenal apa yang namanya balas dendam jadi jika kau pikir kau melakukan semua ini karena kau masih mencintainya maka kau salah besar.”

“Dan satu hal lagi, jika kau terus bersikap seperti ini padanya maka jangan salahkan aku jika aku merebutnya darimu dan aku bisa pastikan bahwa aku akan menjadikan dia sebagai wanitaku.” kata Kyuhyun dengan penuh percaya diri lalu keluar dari ruangan latihan DBSK.

“AAAHH!” Changmin menjerit kencang dan melempar handuk yang dipegangnya ke sembarang tempat.

“Aku benci mengatakan hal ini tapi apa yang dikatakan Kyuhyun benar, Changmin-ah. Aku tahu Sooyoung pernah berbuat salah padamu tapi membalasnya seperti ini… itu bukanlah cinta.” ujar Yunho.

* * *

 Changmin menunggu Sooyoung keluar dari kelas musik. Pria jangkung itu bersembunyi di ruangan tempat menyimpan alat-alat musik yang terletak di sebelah disebelah kelas musik. Seperti yang sudah dia perhitungkan, Sooyoung akhirnya keluar dari ruangan tersebut bersama Yoona.

“Ah, sepertinya aku harus belajar labih giat lagi.” Yoona berkata.

“Kau tahu onnie, aku sudah lama belajar piano namun entah mengapa jari-jariku tidak bisa selincah Joohyun atau Yuri onnie.” Yoona terus mengoceh dan tanpa sadar meninggalkan Sooyoung yang berjalan dengan pelan di belakangna. Kepala Sooyoung menunduk dan berjalan dengan sangaaatt lambat.

Changmin mengambil kesempatan ini dan kemudian menarik tubuh Sooyoung masuk ke dalam ruangan tempat dia sebelumnya bersembunyi.

“Hmphffh” Sooyoung berontak namun genggaman Changmin terlalu kuat. “Diam.” bisik Changmin. Sooyoung yang menyadari bahwa orang yang menariknya adalah Changmin, mengangguk dan berubah diam.

“Oppa, apa yang kau lakukan?” tanya Sooyoung heran ketika Changmin sudah melepaskannya.

“Apa kau masih mencintaiku?” tanya Changmin.

“Eh?”

“Aku tanya apa kau masih mencintaiku?” ulang Changmin. Sooyoung menatap mata Changmin dalam-dalam kemudian mengangguk mantap. “Aku masih mencintai–” kata-kata Sooyoung terputus dengan bibir Changmin yang sudah mendarat di bibirnya. Sooyoung menutup matanya, berusaha menikmati ciuman Changmin yang sudah lama dirindukannya namun perlahan Changmin berubah kasar dan Sooyoung baru sadar bahwa tangan kiri Changmin berusaha memasuki kaus yang dipakainya.

“Oppa–” Sooyoung berusaha keras menjauhkan tubuh Changmin darinya namun Changminterlalu kuat untuknya. “Oppa lepaskan aku.” Sooyoung berkata panik namun Changmin malah memperdalam ciumannya dan menarik kaus Sooyoung hingga robek.

“Op–hff-pa–” Sooyoung berusaha untuk berteriak namun Changmin dengan cepat mengunci bibir Sooyoung dengan bibirnya. Kaus putih yang dipakai Sooyoung sekarang sudah robek menyebabkan tali bra yang dipakainya terlihat.

Sooyoung tetap berontak sekuat mungkin dan mulai menangis. Changmin bisa merasakan air mata Sooyoung yang mengalir turun di wajahnya dan mengenai bibirnya. Perlahan, Changmin menghentikan perlakuan kasarnya dan melepaskan tangannya dari tubuh  Sooyoung namun tidak dengan bibirnya. Dia masih terus mencium Sooyoung namun dengan ciuman yang dipenuhi dengan rasa sayang, bukan ciuman yang dipenuhi dengan rasa nafsu seperti sebelumnya.

Tubuh Sooyoung pelan-pelan merosot dan akhirnya jatuh. Changmin kaget bukan main melihat Sooyoung yang jatuh pingsan dihadapannya.

“Soo– Sooyoung? Sooyoung-ie? Sooyoung-ah!” Changmin mengguncang-guncang tubuh Sooyoung namun gadis itu tidak bereaksi sama sekali.

“Sooyoung-ah!” Changmin berteriak kencang dan dengan cepat menggendong Sooyoung, membawa gadis itu ke ruang kesehatan.

* * *

PLAK!

Changmin menerima sebuah tamparan keras dari Jessica ketika Changmin menceritakan semuanya kepada member SNSD dan Yunho.

“Beraninya kau berbuat seperti itu!” Jessica berteriak kencang sementara Yunho hanya diam tanpa berusaha menghentikan apa yang sedang dilakukan Jessica.

“Apa kau tahu? Setiap malam dia selalu terbangun dan menangis karena memimpikanmu tapi apa sekarang? Kau malah menyakitinya dan terlebih lagi, kau mau memperkosanya? Kau tahu, Shim Changmin? Aku kehilangan rasa hormatku terhadapmu!” Jessica mendengus kesal sementara yuri berusaha menariknya agar menjauhi Changmin.

“Mianhae…” Changmin bergumam pelan.

“Oppa, aku tahu Sooyoung pernah berbuat salah padamu. Aku tahu kau kesal atau bahkan membencinya, kami semua juga pernah merasa seperti itu. Tapi kelakuanmu kali ini sudah kelewatan.” Taeyeon berkata dengan lebih tenang namun dalam nada bicaranya, Changmin bisa merasakan kalau gadis bertubuh mungil ini ingin sekali memukulnya.

“Sebaiknya kau tidak usah menemui Sooyoung lagi.” Jessica kembali berkata yang membuat Yuri memukul dan menyuruhnya untuk diam.

“Kalaukalian tidak keberatan, bolehkah aku tinggal disini bersama Sooyoung berdua saja?” pinta Changmin.

“Untuk apa? Supaya kau bisa memperkosanya lagi?” sambung Jessica tajam. Kali ini Yuri menutup mulut Jessica dengan tangannya dan membawa gadis itu keluar dari ruangan.

“Jaga dia baik-baik, oppa.” pesan Hyoyeon dan Taeyeon yang dibalas anggukan dari Changmin.

“Oppa, kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu kan?” Yoona menempatkan tangannya di atas pundak Changmin. Changmin mengangguk pelan, “tapi aku mohon oppa, jangan sakiti Sooyoung onnie. Dia sudah terlalu menderita dengan masalah ini.”

“Aku berjanji Yoona, aku akan menyakitinya lagi.” Changmin mengelus kepala Yoona dan gadis itu beserta member-member SNSD yang lain termasuk Yunho keluar dari ruangan meninggalkan Changmin sendirian bersama Sooyoung.

Changmin duduk di kursi yang terletak tepat disamping kasur Sooyoung . Pria itu mengambil tangan kiri Sooyoung dan mengenggamnya dengan erat.

“Mianhae.” air mata mulai menetes di wajah Changmin. “Mianhae Sooyoung-ah…” Changmin menciumtangan Sooyoung sambil menundukkan kepalanya.

“Mianhae.” entah sudah berapa kali Changmin mengucapkan kata-kata itu.

“Yang ingin  aku dengar bukanlah kata maaf darimu.” suara serak Sooyoung terdengar membuat kepala Changmin terangkat.

“Sooyoung.” Changmin berkata dengan nada tidak percaya. “Mianhae.”

Sooyoung menggelengkan kepalanya pelan kemudian sebuah senyuman terpahat di wajahnya, “sudah aku bilang aku tidak ingin mendengar kata-kata maaf darimu. Yang ingin aku dengar adalah bahwa kau mencintaiku.”

“Saranghae.” ucap Changmin cepat.

“Na doo oppa saranghae.” balas Sooyoung. “Maaf karena aku sudah memutuskan hubungan kita secara sepihak, maaf karena aku tidak memberimu kesempatan untuk mencoba terlebih dulu.”

“Annyi. Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku karena sudah bersikap kasar padamu. Maafkan aku karena aku sudah hampir mem-”

“Hush.. Aku tidak mau mendengar hal itu lagi, oppa. Itu semua sudah berlalu.” Sooyoung menempatkan jari telunjuknya di bibir Changmin.

“Mianhae. Saranghae.” ucap Changmin tulus.

“Apa itu tandanya kita kembali seperti dulu lagi?” Sooyoung memastikkan.

“Jika kau mau maka aku tidak keberatan.” balas Changmin. Keduanya tersenyum sembari Changmin mencium lembut kening Sooyoung.

“Semuanya akan baik-baik saja.” bisik Changmin di telinga Sooyoung.

-THE END-

A/N: Gimana? Puaskah sama endingnya? Atau endingnya keliatan klise banget? Hahaha~ Tenang, seperti yang dibilang sama Changmin, ‘semuanya bakal baik-baik saja’ tapi sayangnya ada pihak-pihak yang ga bisa ngejamin janji Changmin ke Sooyoung ^^

Kemungkinan besar ff ini bakal aku lanjutin tapi ga dalam waktu-waktu dekat ini. Aku bakal ujian beberapa hari lagi dan setelah itu aku bakal mudik *yay* jadi aku belum bisa jamin kapan aku bakal ngelanjutin ff ini lagi, yang sabar ya reader-readerku sayang… Have fun reading ^^

Read it, Love it and COMMENT! 

[OneShot] Truth Hurt (Sequel: Why)

 

 

 

 


Truth Hurt
Choi Sooyoung - Shim Changmin

Orang bilang cinta membutuhkan pengorbanan, tapi bagaiana jika pengorbanan itu terlalu besar? Bukan hanya perasaan namun juga teman, sahabat, cinta dan… semua hal?

Apa pengorbanan itu setara jika harus kehilangan semua orang yang dicintai?

* * *

Sooyoung membenamkan wajahnya di tumpukan-tupukan  CD yang ada di depan wajahnya. Gadis tinggi itu menghela nafas berat, menandakkan bahwa hidupnya sudah cukup menderita tanpa harus ada lagi masalah baru yang akan datang.

Terdengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. Gadis itu mengangkat kepalanya, melihat ke sekelilingnya kemudian bangkit dari duduknya dan buru-buru bersembunyi di balik sebuah lemari besar berisi piala-piala. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan keringat dingin yang perlahan mengalir di wajahnya. Dilihat orang lain adalah keinginannya yang paling terakhir selama dia asih hidup untung saat ini.

“Aku tahu! Aku tidak pernah menyangka Sooyoung noona adalah orang seperti itu.” gadis itu bisa mendengar suara milik Key.

“Entahlah oppa. Masih sulit untukku percaya bahwa Sooyoung onnie berbuat seperti itu.” sahut sebuah suara perempuan yang diyakini gadis itu adalah suara milik Krystal.

“Aku juga begitu tapi lihat saja, bahwa SNSD noona-deul marah kepada Sooyoung noona. Jika Sooyoung noona tidak begitu mana mungkin SNSD noona-deul marah padanya?” pria itu mengelak.

“Benar juga. Sooyeon onnie juga bilang padaku bahwa selama 10 tahun berteman dengan Sooyoung onnie, baru kali ini dia merasa kecewa dan marah padanya.”

“Kasihan Changmin hyung. Kau tahu? Aku dengar Yunho hyung selalu menghindar jika ada seseorang yang membicarakan Sooyoung noona. Kemarin dia juga menolak untuk bicara dengannya padahal Sooyoung noona ada di hadapannya. Aku rasa Yunho hyung benar-benar marah.”

“Chinja? Kasihan Sooyoung onnie.” suara Krystal melemah.

“Disaat-saat seperti ini sangatlah menyulitkan kita. Aku bingung harus percaya dan berpihak pada siapa. Kita berdoa saja supaya Sooyoung noona sadar dan minta maaf pada Changmin hyung.”

Hati gadis itu sakit ketika mendengar percakapan kedua hoobae-nya. Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia menghilang dari dunia ini karena sudah tidak ada 1 orang pun yang menginginkannya?

* * *

“Sooyoung onnie, kau sudah pulang?” sambut magnae ketika aku masuk ke dalam dorm. Aku memberinya sebuah senyuman simpul dan mengelus  kepalanya lalu berjalan langsung menuju kamarku.

“Sica-ah.” sapaku ketika melihat Jessica yang sedang duduk di kasurnya sambil membaca sebuah novel. Gadis berambut cokelat itu hanya diam dan terus membaca tanpa menghiraukanku. Aku memutuskan untuk menghampirinya namun ketika aku duduk di sebelahnya, dengan cepat dia langsung bangkit dan keluar dari kamar.

Aku menghela nafas panjang dan mengganti pakaianku. Setelah selesai, aku keluar dari kamar dan langsung menuju ruang tengah. Tiffany, Yoona, Seohyun dan Hyoyeon sedang duduk disana sambil menonton serial kartun Keroro kesukaan Seohyun. Mereka semua pasti sudah terkena virus Keroro.

Tanpa berkata apa-apa, aku langsung mengambil duduk disamping Yoona dan ikut menikmati acara TV namun Yoona dengan cepat mengambil mangkuk chip nya dan berpindah duduk kesamping Hyoyeon. Apakah mereka harus bersikap seperti ini padaku?

“Yoona-ah, apa kau tidak mau duduk bersama onnie?” tanyaku dengan nada bercanda.

“Annyi, aku tidak mau duduk disamping orang yang tidak memiliki perasaan seperti onnie.” Yoona berkata dengan sarkastik. Seumur hidup baru kali ini aku mendengar Yoona berkata seperti itu kepada orang lain.

“Yoona onnie…” ucap magnae sambil memberi Yoona tatapan tajamnya.

“Kenapa Joohyun? Apa yang dikatakan Yoona itu benar. Jika kau terus berada di dekatnya maka sifatnya yang tidak memiliki perasaan bisa menular. Kau tidak mau kan menjadi orang seperti itu?” tambah Sica yang sedang duduk di dapur.

Aku bisa merasakan kemarahanku yang hapir meluap saat ini. Sudah cukup! “Sampai kapan kalian harus bersikap seperti ini? Disaat-saat seperti ini bukankah kalian seharusnya mendukungku? Tapi apa yang kalian lakukan? Kalian malah menjauhiku seakan-akan aku ini adalah sebuah virus yang bisa membuat kalian mati tertular.”

“Apa kau bilang? Seharusnya kau yang sadar, Choi Sooyoung! Aku berteman denganmu selama ini bukan karena fisik atau uangmu tapi karena sifat tulusmu! Tapi aku salah! Kau bukanlah orang baik yang berhati tulus namun kau adalah orang yang kejam! Tidak memiliki perasaan! Kau hanyalah wanita yang menilai seseorang dari ketenaran mereka! Apa kau bilang? Kau ingin berpaling kepada Jaebum oppa dan Yoon Doojoon? Apa kau sadar bahwa mereka berdua adalah kekasihku dan Hyoyeon? Kekasih orang yang sudah menjadi sahabatmu sendiri selama lebih dari 10 tahun? Dan kau bilang kami masih bisa putus! Lalu apa? Setelah itu kau akan memacarinya? Jika kau masih belum tahu, saat ini aku saaaaangat membencimu!” ujar Jessica lantang. Aku tidak tahu bahwa Sica bisa berlaku seperti ini. Aku tahu Sica, aku tahu saat ini kau sangatlah membenciku tapi andai saja kau tahu alasanku berlaku seperti ini.

“Aku tidak marah karena kau putus dengan Changmin oppa! What the hell, itu urusan kalian! Tapi yang membuatku membencimu adalah caramu yang  memperlakukannya seperti sampah yang menunjukkan bahwa kau adalah wanita jahat!” tambahnya lagi. Mataku terasa panas dan sedetik kemudian wajahku basah.

“Cihh~ Simpan saja airmata buaya mu itu, Choi Sooyoung!” Jessica menatapku dengan padangan jijik nya.

“Maafkan aku.” ujarku pelan.

“Jika kau ingin minta maaf, minta maaf kepada orang yang–”

“Maafkan aku karena tidak bisa memberitahu kalian mengenai hal yang sebenarnya.” potongku sementara Jessica hanya diam.

“Hal apa onnie?” tanya magnae. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku sambil terus menangis dan tanpa melepaskan pandanganku dari Sica. Jessica mengalihkan pandangannya dariku yang membuatku berpikir bahwa saat ini dia benar-benar tidak ingin melihatku. Aku memutuskan untuk keluar dari dorm dan berjalan-jalan sebentar, mungkin itu bisa menenangkan pikiranku.

* * *

“Bagaimana keadaan Sooyoung?” tanya Leeteuk pada Taeyeon yang duduk diseberang ruangan.

“Hyung, jangan bicara mengenai pengkhianat itu lagi!” Yunho bangkit dari duduknya dan duduk di samping Taeyeon.

“Yunho oppa betul, oppa. Bisakah kita membahas masalah lain? Aku sudah cukup pusing mengenai masalah Sooyoung, belum lagi reaksi member-member yang lain.” Taeyeon memijit-mijit keningnya.

“Kasihan Sooyoung.” Onew menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah datar.

“Kasihan? Dia pantas mendapatkan hal itu!” Yunho berseru keras.

“Yunho-ah, bukankah Sooyoung adalah adik kesayanganmu? Kenapa kau bersikap terlalu kejam padanya?” Leeteuk memperlihatkan ketidak senangannya atas sikap Yunho terhadap Sooyoung.

“Dan seingatku hyung, adik perempuan kesayanganmu adalah Yoona tapi kenapa kau selalu membela Sooyoung? Sooyoung itu adalah wanita egois yang menilai seseorang berdasarkan ketenaran mereka! Kenapa tidak sekalian saja dia memacari Jaejoong? Bukankah mereka sangat dekat? Lagipula saat ini Jaejoong sangat terkenal.” ujar Yunho kasar.

“CUKUP JUNG YUNHO! Jangan pernah menghina Sooyoung seperti itu jika kau tidak tahu hal yang sebenarnya!” balas Leeteuk dengan marah. Dia hanya berpikir semua ini terlalu tidak adil untuk Sooyoung.

Dia mengorbankan perasaannya sendiri demi kebaikan dan kepentingan banyak orang namun ini sudah terlalu jauh! Semua orang membencinya karena mereka berpikir bahwa Sooyoung adalah orang yang kejam karena memutuskan hubungannya dengan Changmin seata-mata karena Changmin tidaklah ‘setenar’ dulu.

“Hal yang sebenarnya? Hal apa, hyung?” tanya sebuah suara khas milik pria kurus tinngi yang sedang berdiri di daun pintu.

“Ch–changmin-ah.” Leeteuk terkejut melihat kehadiran Changmin yang amat sangat tidak diharapkannya.

“Iya hyung, hal yang sebenarnya apa?” tambah Onew.

“Oppa, apa ada sesuatu yang kau ketahui dan kami tidak tahu?” Taeyeon mengerutkan keningnya.

“Itu…”

“Oppa, jika ada sesuatu hal yang seharusnya kau ceritakan maka ceritakanlah! Setidaknya padaku! Sooyoung adalah memberku dan aku perlu mengetahui hal apapun itu!” Taeyeon berkata tegas.

Leeteuk melihat keempat dongsaengnya yang melihatnya dengan tatapan ‘cepat-katakan-padaku’. Leeteuk mengambil nafas panjang kemudian menceritakan hal yang seharusnya mereka ketahui. Sooyoung tidak boleh menderita seperti ini.

* * *

Changmin menggenggam tinjunya dengan kencang dan berjalan denga marah memasuki kantor atasannya.

“Changmin-ssi, apa kau ingin bertemu dengan–” Changmin terlalu sibuk bergelut dengan amarahnya untuk menghiraukan perkataan sekretaris itu.

BRAAK!

Changmin menghempaskan pintu ruangan Kim Young Min dengan kasar. “Apa-apaan ini?” Kim Young Min yang kaget langsung berdiri dan menatap Changmin dengan arah dan bingung. Changmin meninju meja kayu yang ada didepannya sambil menatap Kim Young Min dengan mata besarnya.

“Apa yang sedang kau lakukan? Ada apa denganmu?”

“Apa yang sudah kau lakukan pada Sooyoung? JAWAB AKU APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA HUBUNGAN KAMI?” Changmin berteriak keras kepada atasannya.

Kim Youngin yang awalnya terlihat bingung akhirnya mengerti apa maksud Changmin dan tertawa pelan. “Oh, jadi kau sudah tahu. Entahlah, mungkin aku memang melakukan hal yang seharunya sudah lama ku lakukan.” Kim Young Min memberikan cengirannya pada Changmin membuat pria jangkung itu semakin marah.

“Kau–”

“Kenapa? Kau ingin memukulku? Hanya karena wanita bodoh itu?”

Kesabaran Changmin ternyata memiliki batas. Tepat setelah Ki Young Min berkata Sooyoung adalah wanita bodoh, tangan Changmin secara refleks mencengkram dan mengangkat kerah baju pria yang menjadi atasannya itu.

“Jangan.pernah.memanggilnya.BODOH!” Changmin menggeram.

“Kenapa? Apa kau marah?”

“Marah?” tanya Changmin. “Annyi, aku tidak marah. Aku MURKA!” hanya tinggal sedikit lagi kepalan tinju Changmin mendarat mulus di wajahnya sebelum akhirnya Yunho dan Leeteuk menarik tubuh Changmin menjauh.

Kim Young Min terlihat shock dengan perbuatan Changmin yang hampir mencelakainya. Dia tidak pernah menyangka bahwa Changmin bisa berbuat se ekstrim itu.

“Kau– apa kau baru saja…”

“Iya, aku baru saja ingin membunuhmu jika tidak dihalangi.” Changmin berkata pelan dan menggunakan suara yang  dalam. “Kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Kau bukan hanya membuatnya kehilanganku tapi juga kehilangan member-membernya! Apa itu hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang bos kepada ‘mesin pencetak uang’ nya?”

“Changmin…” Kim Young Min berjalan pelan dan berdiri di samping Changmin. “Kau tahu betul bahwa larangan untuk berkencan itu termasuk di dalam kontrak jadi bukan salahku jika melakukan hal ini. Atau kalau kau tidak senang dengan peraturan ini…”

“Apa?” potong Changmin. “Apa yang akan kau lakukan? Kau akan mengeluarkanku dari grup? Dari perusahaan? Atau kau akan mengeluarkan Sooyoung? Huh, jika kau ingin saham perusahaan anjlok dan menjadi bangkrut maka lakukan saja!” kata Changmin sambil berjalan keluar dari ruangan Kim Young Min.

Changmin menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya sebelum dia meninggalkan ruangan, “jika kau berani ikut campur dalam hubungan SIAPAPUN di perusahaan ini maka aku bisa pastikan SM hanya akan tinggal nama di masa depan.” ancamnya.

* * *

Seperti biasanya selama 2 minggu terakhir ini, Sooyoung selalu menghabiskan waktu senggangnya di kantor, di tempat paling sepi di gedung ini. Tempat ini dulunya menjadi tempat dimana dia dan Changmin berkencan secara diam-diam, membawa makan siang mereka kesini, mengobrol, mendengarkan lagu-lagu yang dibuat Changmin untuknya. Namun tentu saja kali ini berbeda.

Jika biasanya disini dia selalu mendapatkan perasaan yang bahagia, tawa, canda namun sekarang dia hanya bisa membawa kesedihannya ke tempat ini. Entah sudah berapa liter air mata yang dia keluarkan beberapa minggu ini. Dia ingat betul Minho berkata bahwa di matanya sudah tidak ada spot putih lagi, yang ada hanyalah merah.

Kim Young Min bodoh! Kenapa dia harus memisahkanku dengan Changmin?
Shim Changmin bodoh! Kenapa dia membuatku jatuh cinta padanya?
Ah tidak! Choi Sooyoung, kaulah yang bodoh! Kenapa kau bisa jatuh cinta padanya?

Sooyoung memukul-mukul kepalanya namun ada sebuah tangan lain yang menghentikan perbuatannya. Sooyoung mengangkat kepalanya dan melihat sosok wanita bertubuh mungil, berkulit putih pucat dengan senyum manis di wajahnya.

“Taeyeon-ah…” Sooyoung bergumam kecil. Gadis bertubuh kecil itu melepaskan pergelangan tangan Sooyoung dari genggamannya kemudian duduk disampingnya.

“Aku sudah lama tahu tempat ‘rahasia’ ini.” Taeyeon menekankan kata ‘rahasia’. “Ini dulunya tempat aku dan Junsu oppa sering bertemu diam-diam. Junsu oppa memutuskan untuk meminjamkan tempat ini pada Changmin oppa supaya dia dan kau juga bisa menikmati waktu berkencan.”

Sooyoung mengeluarkan suara tawa kecil dan menggelengkan kepalanya. “Benarkah? Dulu Changmin oppa bilang padaku  bahwa dia sangat bersusah payah untuk menemukan tepat ini.”

“Ah, kau tahu pacarmu orang seperti apa. Lord Voldemin.” ujar Taeyeon membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.

“Sooyoung-ah, apa kau tidak merindukannya? Changmin oppa.” tanya Taeyeon pelan. Tawa lebar Sooyoung dalam sesaat berubah menjadi sebuah senyuman, senyuman yang menggeambarkan kesedihan.

“Aku rasa seiringnya waktu dia bisa melupakanku.” jawab Sooyoung pelan.

“Dan kau? Bagaimana dengan kau? Apa denga seiringnya waktu kau juga bisa melupakannya?” tanya Taeyeon lagi. Sooyoung tidak menjawab pertanyaan Taeyeon karena dia sendiripun tidak tahu apa yang harus dia jawab.

“Aku sudah tahu semuanya.” Mata Sooyoung terbuka lebar mendengar perkataan Taeyeon. Gadis tinggi itu memutar kepalanya dan menatap sahabatnya dengan serius. “Bagaimana–”

“Leeteuk oppa menceritakan semuanya kepada kami.”

“Kami?” mata Sooyoung terbuka semakin lebar.

“Iya. Aku, Onew, Yunho oppa dan Changmin oppa.” Sebuah nama yang paling tidak ingin Sooyoung dengar keluar dari mulut Taeyeon. “Geez Sooyoung! Kenapa kau harus menanggung semua hal ini sendirian? Kenapa kau tidak bicara pada kami? Setidaknya padaku!” Taeyeon meninggikan suaranya secara tiba-tiba.

“Aku–”

“Kau tahu betul apa yang sudah kau lakukan, kau tahu betul apa konsekuensi yang akan kau dapat akibat perbuatanmu tapi kenapa masih saja kau melakukannya? Dasar bodoh!” Taeyeon menjitak kepala Sooyoung dengan gemas.

“Taeyeon-ah, apa kau yakin Changmin oppa mendengar semuanya? Maksudku, apa dia benar-benar tahu hal yang sebenarnya?” tanya Sooyoung lagi.

“Leeteuk oppa tidak akan bercerita pada kami jika tidak dipaksa oleh Changmin oppa. Dan apa kau tahu apa yang dilakukannya setelah itu? Dia langsung naik ke atas dan mengancam Kim Young Min agar membiarkan dia dan dirimu terus berhubungan. Tentu saja dengan sedikit ancaman CEO kita menyetujuinya.” jawab Taeyeon.

“MWO? Eotekkeh…” Sooyoung terlihat panik. Taeyeon menghembuskan nafas panjang kemudian mengambil tangan Sooyoung dan menggenggamnya.

“Kenapa tidak kau temui saja dia? Temui Changmin oppa, minta maaf dan mulai semuanya dari awal. Kau tahu betul bahwa kau yang bersalah. Buanglah ego mu dan tunjukkan padanya bahwa kau masih mencintainya.” Mungkin Taeyeon memang memiliki tubuh yang mungil, wajah bayi yang membuatnya terlihat seperti anak-anak SMP tapi dibalik itu semua, Sooyoung paham betul bahwa Taeyeon adalah wanita yang amat dewasa.

Sooyoung memikirkan kata-kata Taeyeon sebentar kemudian sebuah senyum mengembang di wajahnya dan dengan cepat menarik tubuh gadis mungil itu ke dalam pelukannya.

“Gumawo gumawo gumawo gumawo gumawo!!!” Sooyoung berteriak girang lalu berlari keluar untuk mencari Changmin.

“Sooyoung-ah, hwaiting!” gumam Taeyeon.

* * *

“Soojoung-ah, apa kau melihat Changmin oppa?” tanya Sooyoung pada Krystal yang sedang berkumpul dengan para member SMTown yang lain.

“Tadi dia ada disini tapi sepertinya dia pergi ke toilet beberapa menit yang lalu.” jawab Krystal sambil menunjuk ke arah toilet.

“Ah chinja? Gumawo!” Sooyoung melambaikan tangannya pada Krystal dan berlari dengan cepat menuju toilet pria.

Dari jauh, Sooyoung bisa melihat sosok tinggi Changmin yang mengenakan kaus putih dan celana jeans selututnya yang berdiri membelakanginya. “Chang—” kata-kata Sooyoung terputus ketika melihat Changmin bersama Lee Yeonhee, berciuman.

Sooyoung diam membeku. Dunia dan waktu seakan berhenti, annyi, jantung Sooyuonglah yang sepertinya berhenti. Dia ingin lari dari tempat itu tapi tidak bisa. Dia ingin memejamkan matanya dan memalingkan kepalanya tapi hal itu juga tidak bisa.

“Oh? Sooyoung-ah…” suara lembut Yeonhee memanggil Sooyoung ketika dia melihat gadis itu berdiri membeku di hadapannya. Changmin melepaskan tangannya dari wajah Yeonhee dan membalikkan tubuhnya kebelakang.

Matanya ketika dia memandang Sooyoung, tatapannya kosong. Sooyoung sama sekali tidak melihat adanya emosi dalam matanya. Tanpa mengatakan apa-apa, Changmin memutar tubuhnya dan berjalan ke arah Sooyoung namun sayangnya pria itu sama sekali tidak melirik Sooyoung melainkan terus berjalan, jauh dan terus menjauh.

-THE END-

A/N: Maaf ya chingu-deul kalo lanjutannya kelamaan. Happy reading yah and don’t forget to comment!

[OneShot] Why?

Why?
Choi Sooyoung Shim Changmin

‘You are a bad girl, why did you abandoned me?’

Hanya kata-kata itu lah yang menempel di otakku saat ini. Klise memang kelihatannya. Seorang Shim Changmin, pria tinggi dan tampan ditambah aura seksinya duduk sendiri di dalam kamar, menyendiri sambil mendengarkan sebuah lagu yang bermakna ‘dicampakkan’.

Tapi itu lah kenyataannya. Seperti itu lah keadaanku sekarang. ‘Kau benar-benar jahat! Bagaimana mungkin kau mencampakkanku begitu saja? Memutuskan hubungan yang sudah kita jalin selama bertahun-tahun?’

Pertanyaan itu terus berputar di pikiranku. Apa yang kurang dariku? Apa aku kurang perhatian padamu? Apakah cintaku padamu kurang dari besarnya cintamu padaku? Aku rasa tidak! I don’t think so.

Tapi kenapa? Kenapa kau mencampakkanku? Kenapa kau bilang bahwa kau sudah bosan padaku? Tidak lagi tertarik padaku? Kau jahat, Choi Sooyoung!

* * *

“Oppa!” panggil Tiffany dengan suaranya yang besar dan bersemangat, sama seperti biasanya.

“Fany-ah…” balasku setengah hati. Melihat wajah berseri Tiffany membuat derita dihatiku bertambah. Mengapa? Tiffany adalah rekan 1 grup Sooyoung yang membuat dirinya adalah sahabat Sooyoung. Setiap melihat Tiffany biasanya aku melihat Sooyoung dan ketika aku memikirkan hal itu dan kembali teringat padanya maka sakit hatiku akan muncul kembali.

“Oppa, kau kenapa? Sakit?” Tiffany sedikit menjinjit untuk menyentuh keningku.

“Gwencanha Fany-ah.”

“Kenapa oppa terlihat lesu? Aah, pasti karena belum melihat Sooyoung kan?” Tiffany melemparkan tinjuan lembutnya ke lenganku. Dari cara bicaranya sepertinya gadis ini belum tahu bahwa Sooyoung sudah MENCAMPAKKANKU.

“Oppa, sekarang Sooyoung sedang di kantin bersama Luna. Apa kau mau aku telpon Sooyoung agar dia kesini?” Tiffany menawarkan.

“Annya, Fany-ah. Aku tidak mau menganggunya lagipula oppa harus ke studio rekaman untuk menemui Yunho hyung.” tolakku sehalus mungkin berusaha agar tidak menyakiti perasaannya jika tidak maka Siwon hyung akan membunuhku.

“Huft… Arasso. Kalau begitu aku pergi dulu oppa. Annyeong, pyong~” Tiffany mencubit gemas pipiku lalu berlari dengan cepat meninggalkanku. Dasar anak itu!

“Oh, Changmin oppa!!” sebuah suara nyaring memanggilku. Aku memutar tubuhku untuk melihat pemilik suara itu dan mendapati Luna yang sedang melambaikan tangannya kearahku. Dan tentu saja, bersamanya terdapat orang yang paling ingin ku hindari saat ini.

“Onnie, ayo!” Luna menarik tangan Sooyoung dan berlari menghampiriku.

“Oppa, belikan kami pizza ya! Yayaya!!!” Luna merengek sambil menarik-narik lengan bajuku. Aku melihat Sooyoung, hhh~ dari ekspresinya bisa kulihat dia tidak terlihat nyaman sama sekali.

“Onnie bilang dia sedang lapar jadi belikan kami pizza ya~”

“Ehm, Luna-ah, tiba-tiba aku tidak lapar! Sebaiknya kita kembali latihan ke dalam.” Sooyoung berusaha menarik Luna dan menjauh dariku namun tenaga Luna untuk tetap disini lebih kuat.

“Tapi aku juga lapar dan ingin makan pizza~”

“Kita beli setelah latihan! Biar aku yang traktir. Ayo!” Sooyoung menarik lengan Luna dengan kedua tangannya hingga gadis itu menyerah dan mengikutinya.

Tanpa berkata apa-apa, Sooyoung pergi begitu saja. Sudah cukup!

“Choi Sooyoung!” panggilku kencan dan itu berhasil membuatnya berhenti. Aku berjalan menghampirinya kemudian melepaskan tangannya dari tangan Luna yang terlihat bingung.

“Kita harus bicara!” Aku menggenggam pergelangan tangannya dan langsung menarik tubuh kurusnya.

“O..onnie~” Luna memanggil namun aku tidak menghiraukannya dan membawa Sooyoung ke tempat yang lebih tenang: atap.

“Lepaskan! Kau menyakiti tanganku! Changmin-ssi lepaskan!” dia menhentakkan tangannya namun genggamanku lebih kuat.

“Changmin-ah…” ujar Leeteuk hyung kaget ketika melihat perlakuanku pada Sooyoung.

“Oppa tolong aku…” pinta Sooyoung namun untungnya Leeteuk hyung tidak berbuat apa-apa dan membiarkan kami menyelesaikan masalah ini sendiri.

Setelah tiba diatap aku baru melepaskan tangannya. Aku bisa melihat bekas cengramanku yang membuat tangannya merah namun aku berusaha untuk mengabaikan hal itu.

“Kau mau apa lagi?” tanyanya dingin sambil mengusap-usap pergelangan tangannya.

“Mwo? Changmin-ssi? Itu kah caramu memanggilku sekarang?”

“Apa salahnya dengan panggilan itu? Changmin-ssi. Kau mau aku memanggilmu dengan nama apa? Oppa? Yeobo? Chaggi? Seobang?” dia berkata dengan sarkastik.

“Wah, kau sangat jahat Choi Sooyoung! Tanpa angin dan hujan kau menelponku dan mengatakan bahwa kau ingin putus, kemudian kau mengacuhkanku dan sekarang ini? Sepertinya mencampakkanku tidak cukup untukmu, huh?” Changmin berkata dingin.

Sooyoung tidak berkedip sama sekali dan melihat Changmin dalam-dalam, “aku rasa karena sudah tidak ada hubungan apapun diantara kita maka tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, betul Changmin-ssi?”

Changmin tidak bisa berkata apapun selain meneteskan air matanya. Matanya terasa panas dan dia ingin sekali berteriak karena kata-kata Sooyoung yang benar-benar melukai hatinya.

“Kau–wanita jahat.” ucapnya pelan.

“Haha~ jadi kau baru tahu? Selama ini aku hanya kasihan padamu makanya aku menerimamu sebagai kekasihku dan karena sekarang aku sudah bosa padamu jadi daripada kau menderita lebih baik jika kita putus. Lagipula kau tidak sepopuler dulu. Sudah banyak idol lain yang lebih muda dan tampan darimu seperti… aah! Taecyeon oppa! Jaebum atau… Yoon Dojoon?”

“Jangan bodoh! Yoon Dojoon adalah kekasih Hyoyeon.” Changmin berucap dengan suara bergetar.

“Hah! Mereka baru berpacara, masih bisa putus. Sama seperti kita.” Sooyoung tersenyum lebar.

“M-mwo?”

“Kau tidak berpikir bahwa selama ini aku benar-benar mencintaimu kan?”

“…”

“Tidak mungkin. Hahaha! Shim Changmin, kenapa kau begitu bodoh? Hahaha! Waah, ku pikir kau adalah pria yang pintar namun nampaknya aku salah besar. Shim Changmin-ssi, aku minta agar kau sadar! Aku tidak mencintaimu. Ok, mungkin aku mencintaimu tapi bukan dirimu melainkan ketenaranmu. Ayolah, berkencan dengan DBSK, siapa yang tidak mau? Namun sekarang aku sudah bosan padamu jadi aku minta putus. Kau mengertikan sekarang?” Sooyoung menepuk pundakku kemudian berjalan meninggalkanku.

“Choi Sooyoung!” panggilku. Aku memutar tubuhku namun dia masih diam dan berdiri membelakangiku, “tatap mataku dan katakan bahwa kau tidak mencintaiku.”

Dengan cepat dia memutar tubuhnya dan menatap mataku sambil tersenyum lebar, “aku tidak mencintaimu. Puas?” dia memberiku sebuah wink kemudian tersenyum dan berbalik berjalan meninggalkanku.

Choi Sooyoung, kau benar-benar wanita jahat!

——————————————————————————–

Sooyoung’s POV

“Ah, aku lapar. Onnie, apakah kau lapar?” tanya Luna yang berjalan disampingku.

“Onnie? Onnie? ONNIE!”

“O…oh? Oh. I-iya.” jawabku gugup.

“Jadi, onnie ingin makan apa?” tanya Luna lagi. Makan. Itu adalah hal yang paling dia sukai dan tentu saja makanan kesukaannya, pizza.

“Pizza.” gumamku.

“Pizza? Daebak! Aku juga mau makan itu. Kalau begitu kita pesan sekarang ya.” aku tersenyum dan mengangguk melihat Luna yang begitu antusias.

“Oh, Changmin oppa!!” Luna berkata cukup keras dan menunjuk sosok yang jaraknya kira-kira 20 meter di depan kami. Changmin oppa yang sepertinya mendengar suara Luna memutar tubuhnya dan melihat kami berdua.

“Onnie, ayo!” Luna menarik tanganku dan berlari untuk menghampiri Changmin oppa.

“Oppa, belikan kami pizza ya! Yayaya!!!” Luna merengek sambil menarik-narik lengan bajunya. Aku melihat Changmin oppa yang memberikan tatapan tidak nyaman dengan kehadiranku.

“Onnie bilang dia sedang lapar jadi belikan kami pizza ya~”

“Ehm, Luna-ah, tiba-tiba aku tidak lapar! Sebaiknya kita kembali latihan ke dalam.” ucapku bohong dan aku berusaha menarik Luna untuk menjauh darinya namun tenaga Luna amat kuat hingga aku tidak cukup kuat untuk menarik tubuhnya.

“Tapi aku juga lapar dan ingin makan pizza~”

“Kita beli setelah latihan! Biar aku yang traktir. Ayo!” aku menarik lengan Luna dengan kedua tanganku hingga gadis itu menyerah dan mengikutiku.

Tanpa berkata apa-apa atau menatapnya, aku pergi begitu saja.

“Choi Sooyoung!” suara Changmin oppa memanggilku dengan kencang dan aku berhenti sebentar. Tiba-tiba Changmin oppa melepaskan tangan Luna dari genggamanku dengan kasar dan menarik pergelanganku dengan erat dan itu amatlah sakit.

“Kita harus bicara!” dia menggenggam pergelangan tanganku dan langsung menarik tubuhku.

“O..onnie~” Luna memanggil namun Changmin oppa sama sekali tidak menghiraukannya dan menarikku entah kemana.

“Lepaskan! Kau menyakiti tanganku! Changmin-ssi lepaskan!” aku menghentak-hentakkan tanganku namun genggamannya lebih kuat.

“Changmin-ah…” Leeteuk oppa terlihat kaget ketika melihat perlakuan kasar Changmin oppa padaku.

“Oppa tolong aku…” pintaku namun Leeteuk oppa hanya diam dan tidak berbuat apa-apa.

Changmin oppa membawaku ke atap dan setelah itu dia baru melepaskan tangannya. Pergelangan tanganku sudah berubah warna menjadi merah dan terasa panas juga sakit dan perih.

“Kau mau apa lagi?” tanyaku dingin sambil mengusap-usap pergelangan tanganku.

“Mwo? Changmin-ssi? Itu kah caramu memanggilku sekarang?”

“Apa salahnya dengan panggilan itu? Changmin-ssi. Kau mau aku memanggilmu dengan nama apa? Oppa? Yeobo? Chaggi? Seobang?” aku berkata dengan sarkastik.

“Wah, kau sangat jahat Choi Sooyoung! Tanpa angin dan hujan kau menelponku dan mengatakan bahwa kau ingin putus, kemudian kau mengacuhkanku dan sekarang ini? Sepertinya mencampakkanku tidak cukup untukmu, huh?” Changmin oppa berkata dingin.

Aku tidak berkedip sama sekali dan melihat Changmin oppa dalam-dalam, “aku rasa karena sudah tidak ada hubungan apapun diantara kita maka tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, betul Changmin-ssi?”

Changmin oppa tidak bisa berkata apapun selain meneteskan air matanya. Aku bisa melihat matanya yang memerah dan sepertinya aku sudah sangat menyakitinya.

“Kau–wanita jahat.” ucapnya pelan.

“Haha~ jadi kau baru tahu? Selama ini aku hanya kasihan padamu makanya aku menerimamu sebagai kekasihku dan karena sekarang aku sudah bosan padamu jadi daripada kau menderita lebih baik jika kita putus. Lagipula kau tidak sepopuler dulu. Sudah banyak idol lain yang lebih muda dan tampan darimu seperti… aah! Taecyeon oppa! Jaebum atau… Yoon Dojoon?”

“Jangan bodoh! Yoon Dojoon adalah kekasih Hyoyeon.” Changmin oppa berucap dengan suara bergetar.

“Hah! Mereka baru berpacaran yang suatu saat masih bisa putus. Sama seperti kita.” aku tersenyum lebar.

“M-mwo?”

“Kau tidak berpikir bahwa selama ini aku benar-benar mencintaimu kan?”

“…”

“Tidak mungkin. Hahaha! Shim Changmin, kenapa kau begitu bodoh? Hahaha! Waah, ku pikir kau adalah pria yang pintar namun nampaknya aku salah besar. Shim Changmin-ssi, aku minta agar kau sadar! Aku tidak mencintaimu. Ok, mungkin aku mencintaimu tapi bukan dirimu melainkan ketenaranmu. Ayolah, berkencan dengan DBSK, siapa yang tidak mau? Namun sekarang aku sudah bosan padamu jadi aku minta putus. Kau mengertikan sekarang?” aku menepuk pundaknya kemudian berjalan meninggalkannya. Oppa, mianhae.

“Choi Sooyoung!” panggilnya. Aku menghentikan langkahku namun tetap berdiri membelakanginya, “tatap mataku dan katakan bahwa kau tidak mencintaiku.”

Aku menghembuskan nafas panjang dan dengan cepat memutar tubuhku dan menatap matanya sambil tersenyum lebar, “aku tidak mencintaimu. Puas?” aku memberinya sebuah wink kemudian tersenyum dan berbalik berjalan meninggalkannya.

Setelah meninggalkan atap, aku mencoba bersandar di dinding karena seolah aku kehilangan keseimbangan dan hendak jatuh.

Aku tidak bisa menahan air mataku lagi dan mulai menangis. Choi Sooyoung, kau benar-benar wanita jahat! Aku menangis dengan keras dan tidak peduli bila ada yang mendengar.

“Kalian harus putus!” ucap Kim Young Min dengan tegas.

“Y-ye?”

“Kau dengar aku, Sooyoung-ssi. Kalian harus putus.” ulangnya lagi.

“Chacang-nim…”

“Aku tahu jika aku meminta hal ini dari Changmin maka itu akan sia-sia namun aku tahu aku bisa mengandalkanmu.” dia berkata dengan wajah licik.

“Aku.. aku tidak mau.” tolak Sooyoung.

“Sooyoung-ssi, aku tahu kau tidak bodoh. Berkencan adalah hal yang dilarang keras disini dan itu tercantum dalam kontrak.”

“Maafkan aku tapi aku tidak ingin berpisah dari Changmin-ssi.” tolak Sooyoung keras dan meninggalkan ruangan CEO nya.

“Walaupun hal itu akan mengancam tim mu?” kata-kata Kim Young Min membuat Sooyoung berhenti berjalan. “Kau tahu, satu kesalahan yang kau buat akan berpengaruh besar pada grup mu. Lagipula jika fans DBSK tahu bahwa idola mereka berpacaran maka kau tahu jelas apa yang akan terjadi kan? 2 tahun vakum karena 3 member yang mengundurkan diri sudah sangat membuat hidupnya susah dan sekarang ketika mereka baru saja bangkit kembali, rumor, ah tidak– fakta bahwa hubungannya dengan seseorang yaitu kau terungkap maka BAM! Karirnya akan hancur.”

“M-mwo?”

“Dan setelah itu tim mu akan ikut jatuh. Kalian baru saja debut di Jepang. Kau tahu kalau cassieopeia adalah fans yang nekat kan? Bayangkan apa yang akan mereka lakukan padamu dan SNSD jika mereka tahu bahwa oppa mereka berpacaran denganmu.” Kim Young Min tersenyum lebar.

Rasanya aku ingin sekali menampar mukanya jika saja dia bukanlah atasanku.

“Bagaimana? Aku tahu kan bukan orang bodoh, Sooyoung-ah.” dia menyengir padaku.

“Apakah kau harus melakukan hal ini padaku? Aku berjanji kami akan bersikap hati-hati! Banyak idol yang diam-diam berpacaran dan tidak ketahuan oleh publik jadi aku yakin kami bisa melakukannya!”

“Andwe!”

“Wae andweyo?”

“Karena kau adalah Sooyoung dan dia adalah Changmin! Kau masih belum mengerti? Kalian adalah SNSD dan DBSK! Kalian adalah Boy dan Girl Group nomor 1 di Korea dan fans kalian amatlah banyak! Jika publik mengetahui hubungan kalian maka perusahaan akan hancur!” dia menaikkan volume suaranya.

“Tapi…”

“Jika kau masih tetap ingin bersamanya maka hanya ada satu cara.”

“Apa itu?”

“Kau atau dia harus keluar dari perusahaan! Ah~ atau kalau tidak bagaimana jika salah satu grup harus disban? Bagaimana? Kau mau ambil kesempatan itu?” dia mengeluarkan senyuman liciknya.

“Mianhae oppa, mianhae…” Sooyoung menangis dengan kepala tertunduk.

* * *

“Sooyoung-ah, kau sedang apa?” Leeteuk oppa yang sedang melewati Sooyoung nampak kaget melihat keadaan Sooyoung yang kacau.

“Op–oppa.” Sooyoung dengan cepat menghapus air matanya dan bangkit.

“Kau kenapa? Kau habis menangis?” tanya Leeteuk khawatir.

“Annyieyo oppa, aku baik-baik saja.” Sooyoung menggeleng dan berusaha keras untuk tersenyum.

“Apa Yoona mengambil makananmu lagi? Atau kau baru saja dipukul Yoona karena menghabiskan makanannya?” tanya Leeteuk geli.

Sooyoung menggeleng, “annyieyo oppa, aku hanya–” kata-kata Sooyoung terhenti ketika sosok Changmin melintas di belakang Leeteuk.

Sooyoung berpikir keras. Apa yang harus dilakukannya. Tiba-tiba ia mendapat ide dan dengan cepat dia tersenyum dan memukul pundak Leeteuk sambil tertawa keras. “Tentu saja oppa! Kita harus merayakan status single ku malam ini!”

“Eh?” Leeteuk menunjukkan ekspresi bingung di wajahnya mengenai perubahan sikap Sooyoung yang amat drastis.

Changmin mendengus kesal lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Sooyoung dan Leeteuk. Setelah cukup jauh, Sooyoung amupun Leeteuk tersontak kaget karena teriakan Changmin yang kencang menggema di lorong.

“Kau kenapa? Apa kau bertengkar dengan Changmin?”

“Kami baru saja putus.” jawab Sooyoung dengan sebuah senyum lebar terlukis di wajahnya.

“Dan kau bahagia karena…”

“Karena aku akhirnya bebas! Apa yang bisa aku harapkan dari pria yang bisanya hanya makan saja?” Sooyoung berkata ketus sambil melipat kedua tangannya.

“Jangan bohong padaku, Sooyoung.” ucap Leeteuk pelan namun Sooyoung bisa melihat keseriusan dari mata pria yang ada di hadapannya.

Walaupun Leeteuk bukanlah idol paling senior di perusahaan namun karena umurnya yang lebih tua dibanding yang lain maka semua menganggap Leeteuk sebagai ‘appa’ dari mereka. Leeteuk dekat dan tahu betul sifat dan kepribadian anak-anak SM terutama membernya sendiri, DBSK, SNSD karena mereka menjalani waktu training bersama untuk waktu yang lama.

Leeteuk juga merupakan salah satu orang yang memiliki peran penting dalam hubungannya dan Sooyoung jadi mustahil bagi Sooyoung untuk berkata bohong padanya.

“Hh~” Sooyoung menghela nafas berat, “aku rasa kau sudah tahu apa yang terjadi dan kenapa aku mengambil keputusan itu, oppa.” Sooyoung menunduk.

“Tekanan dari ‘atas’ ?” Leeteuk menekankan kata ‘atas’. Sooyoung mengangguk lemas.

“Wow, kalau begitu ini cukup sulit.” Leeteuk mengacak-acak rambutnya. “Apa ancamannya?”

“Dia akan membocorkan hubungan kami ke publik dan menghancurkan SNSD dan DBSK bersama-sama.”

“Waah, dia benar-benar kelewatan! Sepertinya kontrak budak belum cukup baginya untuk mengikat kita.” Leeteuk berkata kesal.

“Jika aku ingin dia hidup maka ini adalah satu-satunya pilihan yang aku punya.” Sooyoung berkata pelan lalu berjalan dengan tenaga yang tersisa di tubuhnya.

* * *

Changmin’s POV

“Mwo? Kau dan Sooyoung putus? Bagaimana mungkin?” Yunho hyung berteriak kencang ketika dia mendengar alasan kenapa aku mengurung diri di kamar selama 18 jam terakhir.

“Iya, aku putus? PUAS?” aku memukul meja dengan kencang kemudian lari ke balkon.

“Changmin-ah~” Yunho hyung menepuk pelan pundakku. “…maafkan aku karena tidak peka dengan keadaanmu.”

“Hyung, kenapa semua orang meninggalkanku? Jaejoong hyung, Yoochun hyung, Junsu hyung dan sekarang Sooyoung? Apa aku orang yang jahat? Kenapa mereka semua menyakiti dan meninggalkanku? Apa aku hanyalah sebuah boneka mainan yang bisa ditinggalkan begitu saja ketika mereka sudah bosan?” aku bertanya. Jujur, selama beberapa tahun terkahir, ini adalah hal yang paling aku takutkan. Setelah ketiga hyung pergi, hal yang paling aku takutkan adalah bahwa suatu saat Sooyoung juga akan meninggalkanku dan sekarang hal itu benar-benar terjadi.

“Bodoh! Tentu saja tidak! Kau adalah orang yang baik dan semua orang menyukaimu. Mereka hanya…” kata-kata Yunho hyung terhenti sebentar. Dia menutup matanya dan menarik nafas panjang kemudian membukanya dan tersenyum kecil. “Mereka hanya memiliki beberapa alasan yang bahkan sulit bagi kita untuk mengerti.”

“Yang jelas, kau masih mempunyai aku disampingmu dan aku berjanji apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu.” Walaupun kata-kata Yunho hyung membuatku merinding namun aku bersyukur memiliki hyung dan leader seperti dia.

“Oh ya, besok kita ada rapat mengenai lagu-lagu yang akan masuk di album kita jadi kau harus istirahat yang cukup dan lupakan semua masalahmu, arasso? Kita sudah lama menunggu hari esok tiba.” Yunho hyung mengingatkanku.

“Ne hyung, arasso.”

* * *

Aku dan Yunho hyung menunggu di ruang rapat. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat namun manager hyung bersama produser album kami belum juga muncul.

“Kenapa lama sekali?” Yunho hyung terlihat gelisah. Aku tahu betul Yunho hyung adalah orang yang disiplin dan dia paling benci orang yang telat dan mengharuskannya untuk menunggu.

“Sabar hyung, mungkin mereka–” kata-kataku terpotong karena produser serta manager kami sudah datang.

“Annyeonghaseyo, maafkan saya karena terlambat. Jalanan benar-benar macet.” ujarnya. Yunho hyung dan aku bangkit dari duduk dan menjabat tangannya.

“Baiklah, semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.” dia tersenyum lebar lalu mengeluarkan beberapa buah CD dan kertas.

“Ada 22 buah lagu yang tersedia dan kalian bebas memilih lagu mana saja yang kalian inginkan.” Aku dan Yunho hyung langsung mendengarkan lagu demo dan membaca dengan cermat kertas-kertas berisi lirik tersebut.

Sejauh ini kami sudah memilih 5 lagu namun aku maupun Yunho hyung belum memutuskan mana yang akan kami jadikan single utama.

Setelah lebih dari 3 jam, mataku akhirnya tertuju pada sebuah kertas lirik lagu yang berjudul ‘Why?’. Aku membaca dengan cermat lirik itu dan entah mengapa lagu ini seakan mencerminkan apa yang sedang terjadi dalam diriku.

“Hyung, bagaimana kalau lagu ini yang jadi single utama kita?”

Yunho hyung membaca liriknya kemudian dia menatapku dengan tatapan ‘apa-kau-yakin’.

“Wow! Kau memilih lagu yang bagus, Changmin-ssi.” puji si produser.

“Bisakah kami mendengarkan musiknya?”

Setelah mendengarkan musiknya aku bisa merasakan amarah dan sesuatu yang amat kuat dari lagu ini, yang entah mengapa aku merasa lagu ini memang khusus diciptakan untukku.

“Kau yakin akan memilih lagu ini?” tanya Yunho hyung sekali lagi.

“Hyung, aku mohon.” Yunho hyung menghela nafas berat kemudian mengangguk tanda dia menyetujui pilihanku.

* * *

“Akhirnya besok kalian akan comeback juga!” Kim Young Min merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk memelukku dan Yunho hyung. Walaupun banyak orang yang hanya tahu Lee Soman sonsaeng-nim lah yang jahat tapi pria yang satu ini 100x lebih jahat darinya.

Aku dan Yunho hyung hanya memasang senyum basa-basi kemudian dengan cepat aku menjauhkan tubuhku darinya.

“Sudah berapa lama? 2 setengah tahun! Aah, aku yakin kalian pasti amat merindukkan masa-masa perform di atas panggung kan?” dia tersenyum lebar  sambil menepuk-nepuk pundak Yunho hyung.

“Terimakasih karena sudah datang kesini, chacang-nim.” kami berdua membungkukkan badan kami.

“Oh ya, aku turut sedih atas berakhirnya hubunganmu dengan Sooyoung-ssi. Kau tahu, wanita. Mereka selalu mencari yang terbaik dan lebih baik. Aku harap kau bisa bersikap profesional dan jangan biarkan masalah pribadi mengganggu karirmu, arrachi?” ujarnya padaku.

“Jangan khawatir, Kim Youngmin-ssi.” aku memberinya senyum simpul kemudian dia pergi ke ruangannya.

“Wah, pria itu benar-benar hanya mementingkan masalah uang.” Yunho hyung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Untung saja dia tidak tahu hubunganku dan Yuri kalau tidak dia pasti juga akan–”

“Hyung.” kataku memotong ucapan Yunho hyung.

“Apa?”

“Darimana darimana dia tahu kalau aku dan Sooyoung pernah berpacaran? Annyi, dia tahu bahwa aku dan Sooyoung sudah putus? Bukankah tidak ada yang tahu mengenai hal ini selain kita? Dan yang tahu mengenai putusnya hubungan kai hanya kau dan para member SNSD. Super Junior, SHINee bahkan f(x) un belum tahu. Luna bahkan bilang padaku agar aku dan Sooyoung merayakan hari jadi kami yang ke-5 sebentar lagi. Tapi bagaimana caranya dia tahu? Dan dia sama sekali tidak marah atau bilang apa-apa padaku.” kataku. Sedikit aneh, ah bukan– sangat aneh!

Kim Youngmin atau Lee Soman bukanlah tipe atasan yang akan diam jika melihat artis mereka berkencan walaupun kami sudah putus sekalipun. Mereka pasti akan memanggil kami, minta penjelasan dan akan memaki-maki dihadapan kami tapi ini? Dia tersenyum dan mengutarakan rasa simpati nya padaku. Apa dia sudah gila.

“Benar juga! Anak-anak yang lain tidak akan mungkin bercerita padanya mengenai hubunganmu dan Sooyoung. Lagipula kenapa dia tidak marah dan malah bersimpati padamu?” Betul kan? Bahkan Yunho hyung pun memiliki pemikiran yang sama denganku.  Apa mungkin dia?

“Hyung, aku akan menemui Sooyoung sebentar!” aku berlari tanpa menghiraukan panggilan Yunho hyung.

Aku berlari ke lantai 5 dan langsung menuju ruang latihan SNSD. “Oppa, ada apa?” tanya Yoona heran.

“Dimana Sooyoung?” tanyaku tanpa perlu berbasa-basi.

“Soooyung onnie? Ada perlu apa kau mencarinya?” tanya Yoona lagi.

“Aissh~ Aku tidka punya waktu untuk menjawab pertanyaanmu, Yoong! Beritahu aku dimana Sooyoung sekarang?” kataku sedikit membentak menyebabkan Yoona dan Seohyun yang ada disampingnya terlonjak kaget.

“A–ada di kantin.” keduanya menjawab dengan suara gemetar.

“Gumawo.” dan akupun langsung turun ke bawah.

“Changmin-ah, kau mau kemana?” Kyuhyun yang melihatku lari terburu-buru sempat berusaha menahanku dengan menarik jaket yang ku kenakan namun untungnya tidak berhasil. Aku terus menghiraukan orang yang memanggilku dan meninggalkan mereka dengan wajah yang terheran-heran.

Setelah tiba di kantin, aku melihat Sooyoung dengan para Choi siblings nya, Siwon hyung, Minho dan Sulli ditambah Yuri sedang makan siang dan berbincang. Aku mengatur nafasku kemudian berjalan mendekati mereka.

“Oh? Changmin hyung!” Minho yang pertama kali melihatku melambaikan tangannya dengan semangat. Sooyoung yang duduk di depannya dna otomatis membelakangiku langsung memutar kepalanya dan terlihat kaget melihat kehadiranku disini.

“Aku perlu bicara denganmu!” aku memegang tangan Sooyoung dan menarik tubuhnya dengan paksa.

“Hyung/Oppa/Changmin-ah!” Yuri, Sulli, Minho dan Siwon hyung berseru bersamaan namun aku tidak menghiraukan mereka dan terus membawa Sooyoung keluar dari tepat itu.

“Lepaskan aku. Lepaskan aku! LEPASKAN AKU SHIM CHANGMIN!” Sooyoung berteriak. Aku akhirnya menyerah dan melepaskan tanganku darinya.

“Apa kau sudah gila? Apa lagi maumu kali ini?” katanya dingin sambil memijit-mijit pergelangan tangannya yang memerah.

“Apa yang sudah Kim Youngmin atau Lee Soman lakukan padamu?” tanyaku langsung. Kepalanya yang tadi menunduk karena tidak mau melihat wajahku langsung terangkat dan matanya melebar menandakan dia terkejut dengan kata-kataku barusan.

“A–apa maksudmu?”

“Apa yang sudah Kim Youngmin atau Lee Soman lakukan padamu?” ulangku datar.

“Apa yang sedang kau katakan?”

“Jangan bohong, Choi Sooyoung! ” aku berteriak dan menyandarkan tubuh Sooyoung ke dinding secara kasar. “Kau dan aku bukanlah orang yang bodoh jadi sekarang jawab saja pertanyaanku! APA YANG SUDAH MEREKA LAKUKAN PADAMU?” aku berteriak dan menghantamkan tinjuku ke dinding.

“…”

“Apa mereka mengancammu? Apa yang mereka katakan? Apa mereka bilang jika kau tidak memutuskan hubunganmu denganku maka dia akan menghancurkanku?” tanyaku.

Dia tersenyum kemudian mengeluarkan tawa panjang, “apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Aku tidak peduli jika dia menghancurkanmu atau grupmu karena itu bukan urusanku. Baiklah, dia memang mengancamku tapi tebakanmu yang sebelumnya salah! Dia bukan mengancam ingin menghancurkanmu tapi menghancurkan aku dan tim ku! Tentu saja aku dengan senang hati akan memutuskan hubunganku denganmu. Kau pikir kau sebanding dengan karirku saat ini? Keep dreaming, Shim Changmin.” dia berkata dingin kemudian berjalan meninggalkanku. Choi Sooyoung, sekarang aku sadar bahwa kau memang wanita yang jahat.

-THE END-

A/N: Ceritanya nge-gantung yah? keke~ emang sengaja aku bikin begitu. Masalah lanjutannya nanti aku pikirin bakal aku lanjutin atau ga yaah~ Aku harap reader semua suka sama ceritanya yaah~
Hope you like it ^^
Read it, Love it and COMMENT!!!