[One-Shot] The Only One

Im YoonaXi Luhan

 

Cahaya redup matahari  terasa sangat pas menggambarkan suasana hati sepasang pria dan wanita yang tengah terduduk diam berhadapan satu sama lain. Sudah hamper 2 tahun sejak keduanya terakhir bertemu dan matahari yang memancarkan suasana hangat pun tidak dapat menutupi rasa canggung yang tengah menyelimuti diantara mereka.

“Apa kabarmu?”

Adalah satu-satunya hal yang keluar dari mulut sang pria setelah berdiam diri selama hampir 15 menit. Sang wanita, tanpa mengangkat kepalanya sama sekali, hanya mengangguk dan menjawab dengan suara lembutnya, “aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

Sang pria memberanikan dirinya untuk memandang sosok wanita yang ada dihadapannya. Wanita itu sama sekali tidak berubah. Wajahnya masih sama seperti saat 2 tahun yang lalu, hari dimana dia piker itulah kali terakhir ia dapat melihatnya. Satu-satunya yang berubah dari wanita itu hanyalah rambutnya yang tumbuh semakin panjang.

2 tahun yang lalu, dia sering menyarankannya agar memelihara rambutnya hingga panjag agar dia bisa terlihat lebih feminine tapi sang wanita menolak dengan mengatakan ‘memiliki rambut yang panjang bukanlah hal yang aku sukai’ walaupun pria ini duah memintanya beratus-ratus kali.

“Kau… memanjangkan rambutmu,” pria itu sekali lagi mengeluarkan suaranya dan kembali dibalas dengan sebuah anggukan oleh sang wanita.

Memecahkan suasana canggung diantara mereka, seorang pelayan wanita menghampiri mereka dan menyodorkan menu pada keduanya.

“Chocomint ice cream,” keduanya berkata secara bersamaan. Mereka tersentak kaget dan saling memandang wajah masing-masing. Sang wanita terlebih dahulu mengeluarkan tawanya disusul dengan senyuman dari sang lelaki.

“2 chocomint ice cream,” ujar sang lelaki kepada pelayan tersebut. “Setidaknya kau tidak mengubah rasa ice cream favoritmu.”

Wanita itu memberikan senyuman lembutnya dan kembali mengangguk pelan. “Apa yang kau lakukan saat ini, Han?” untuk pertama kalinya, wanita itu mengambil inisiatif untuk memulai percakapan.

“Aku? Aku sudah lulus kuliah tahun lalu dan sekarang aku bekerja di rumah sakit swasta disini. Bagaimana denganmu, Yoong?” wanita itu terbelalak kaget mendengar  bagaimana pria dihadapannya memanggilnya dengan nama ‘Yoong’. Sebagai gantinya, pria itu juga tidak kalah kaget atas apa yang telah dia ucapkan.  Suasana hening kembali menyelimuti keduanya.

“Lucu,” gumam sang wanita. Pria itu mengangkat kepalanya dan raut heran di wajahnya terpancar jelas. “Lucu?” tanyanya.

“Iya.Tidakkah kau berpikir ini sangat lucu? Kau masih memanggilku dengan nama itu walaupun ini adalah pertama kalinya kita bertemu setelah 2 tahun berlalu.”

“Aku rasa aku tidak dapat memanggilmu dengan nama lain,” jawab pria itu pelan.

“Tentu saja bisa! Kau hanya perlu memanggilku dengan nama asliku, Im Yoona,” jawab wanita bernama Yoona itu dengan senyuman. Pria itu memandang wanita di hadapannya dengan tatapan takjub. “Kau tidak perlu memasang topengmu dihadapanku, Yoong.”

Jangan, aku mohon jangan. Kau hanya akan membuatku lebih lemah.

“Aku menjadi instruktur tari sekarang,” ungkap wanita itu tanpa diminta. “Kau tahu persis aku suka menari, kan?” Pria itu mengangguk lembut.

Terjadi lagi. Keduanya diam sehingga suasana hening kembali datang.

Apa yang sebenarnya terjadi diantara kita? Kesalahan apa yang terdapat diantara kita?

“Ehm, Luhan-ah,” panggil wanita itu. Luhan mengangkat kedua alisnya menanggapi panggilan dari wanita itu. “Aku rasa aku harus pergi sekarang. Aku ada kelas setengah jam lagi dan aku akan mendapat masalah jika telat datang.”

Sepercik rasa kecewa dari wajah Luhan dapat dilihat oleh Yoona namun wanita itu memutuskan untuk membiarkannya.

Jika kau pergi sekarang, aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi.

“Baiklah kalau begitu. Aku juga harus berada di rumah sakit dalam waktu satu jam kedepan.”

Kita hanya akan menjadi orang asing setelah kita berpisah disini.

“Kalau begitu, senang bertemu denganmu hari ini, Xi Luhan-ssi.”  It hurts and hurts and it’s foolish but good bye

“Senang bertemu denganmu juga, Im Yoona.” Though I may never see you again, you’re the only one .

 

 

————————————————————————————————–

image cr: tumblr.

[One-Shot] It’s Me

/ I love you, I love you, I love you
Even if I say it a thousand times, it’s not enough /

Luhan menghembuskan nafas berat ketika dia melihat wanita yang dicintainya. Dia duduk di sudut ruang latihan SNSD, membaca buku-entah-apa-itu dengan kaca mata bergagang hitam miliknya. Perlahan, Luhan menutup pintu besar berwarna putih dan berbisik, “selamat menikmati waktu senggangmu, cintaku. Aku mencintaimu.”

 

/ It’s me who only knows you
the person who will only love you is me /

“Terimakasih untuk traktiran makan siangnya. Kau memang yang terbaik!” wanita itu memberikan senyuman termanis yang dia miliki kepadanya. “Aku rasa kau mengenalku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri, Han,” ujarnya. Luhan mengangguk tanpa menjawab, masih berpikir apa yang harus dia lakukan.

“Jika suatu hari pria yang ditakdirkan untukku tiba, aku berharap pria itu bisa sepertimu. Setia dan yang paling penting adalah dia hanya melihatku seorang,” wanita itu berkata pelan pada dirinya sendiri namun cukup keras bagi Luhan untuk didengar.

 

/ ‘Yeah, love. The person who’ll only love you is me.’

It’s because meeting you was like a miracle to me /

Luhan ingat betul pertama kali mereka bertemu. Mereka bertemu di tahun lalu di basement kantor SM Entertainment. Dia tersenyum dan menyapanya, bertanay apakah Luhan salah satu trainee di SMEnt dan Luhan menjawab ‘iya’. Mereka mengobrol cukup lama, cukup lama untuk Luhan memberitahunya bahwa dia berasal dari Cina dan dia juga adalah fans berat dari SNSD, memberitahunya bahwa dia sangat mengagumi grup tersebut dari awal mereka debut. Sayangnya dia harus pergi karena schedule nya dan dia berjanji padanya bahwa mereka harus lebih sering mengobrol. Dia juga memberi Luhan nomor telpon nya sebelum dia pergi. Luhan berpikir bahwa turun ke basement pada hari itu adalah keajaiban untuknya.

the person who will only protect you is me

Saat-saat yang paling memilukan bagi Luhan adalah ketika dia melihat orang yang dicintainya menangis. Luhan mengutuk setiap kali dia melihatnya menangis. Luhan akan bertanya padanya apa yang telah membuatnya sedih dam dia akan menunjukkan komentar-komentar kebencian di internet yang ditujukan padanya. Luhan, yang pada saat itu belumlah menjadi seorang idol, tentunya tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah menghiburnya, berkata padanya bahwa semua akan baik-baik saja walaupun dia tidak begitu yakin akan hal itu. Jauh di dalam lubuk hatinya dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa orang yang akan melindunginya adalah dia.

 

/ It’s me who is only looking at you by your side /

“Hei,”

Luhan terkejut ketika dia melihatnya duduk di sampingnya. Dia menutup matanya dan menarik nafas panjang ke dalam paru-parunya. “Aku menyukai hal ini,” ucapnya dengan kedua mata yang masih tertutup

“Apa?” Luhan bertanya dalam bingung.

“Udara disini, lingkungan ini, tempat ini, saat ini. Tidakkah kau pikir kita harus merasa bersyukur kepada Tuhan atas semua hal yanh telah Dia berikan ini?”

Luhan menengok ke samping dan melihat gadis yang duduk di sampingnya dalam-dalam. Hidungnya: tidak terlalu mancung dan juga tidak terlalu datar, tidak terlalu runcing, tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil. Entah mengapa itu terlihat sempurna untuknya. Kulitnya yang putih, tahi lalat kecil yang ada di pipi kirinya, dahinya yanng terkenal, mata rusa nya, alisnya. Luhan hanya bisa berpikir bahwa semua itu mungkin tidak lah sempurna tapi ketidaksempuraan itu pula yang membuatnya terlihat luar biasa.

“Kau sangat aneh.”

 

/ My heart is speaking, it’s saying that it’s only you /

“Kau harus mengungkapkan perasaanmu kepada gadis misteriusmu itu atau kalau tidak lebih baik kau lupakan dia dan carilah gadis lain,” sahabatnya, Wu Fan, memarahinya karena dia sudah tidak tahan lagi dengan kebodohan Luhan.

“Yeah, mudah bagimua untuk berkata seperti itu.” Luhan menjawab dengan sarkasme dia nada bicaranya.

“Lalu apa yang sulit mengenai itu sebenarnya? Aku yakin dia juga menyukaimu.”

“Siapa? Dia? Menyukaiku? Apa kau sedang bercanda denganku sekarang, Fan?” Luhan mengeluarkan tawa pahitnya.

“Kalau begitu sebaiknya kau lupakan dia dan lanjutkan hidupmu! Apa kau perlu bantuanku untuk mengatur kencan buta untukmu?” tawarnya. “Aku kenal beberapa gadis di sekitar sini dan aku yyakin mereka pastinya akan menyukaimu.”

Luhan tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak memerlukan teman-teman wanitamu, Fan. Aku juga tidak memerlukan kencan buta. Hanya dialah yang ada di hatiku.”

 

/ This love story is only for you to hear
A story about how I loved only one person
Keep it for yourself – this love
that no one knows about, it’s me /

“Han, aku mendapat sebuah surat misterius pagi ini,” ujarnya, menyodorkan sebuah surat beramplop biru padanya. Luhan mengangkat kedua alisnya dan mengambil surat itu serta melihatnya. “Aku rasa aku memiliki pengagum rahasia,” ucapnya dengan semangat.

“Bukankah ini surat dari salah satu fans mu?” tanyanya.Wanita itu menggeleng kepalnya beberapa kali, “sama sekali tidak! AKu yakin surat ini bukan lah dari fans ku. Tidak ada yang tahu aku menyukai warna biru, bahkan fans ku pun tidak mengetahui tentang hal itu. Aku menerima banyak surat misterius seperti ini dan aku yakin pengirimnya adalah satu orang yang sama, orang yang sudah pasti mengenalku dengan baik.”

Luhan melihat cahaya mata wanita itu nampak hidup setiap kali dia mengucapkan sesuatu. “Jadi, apa isi surat itu?”

Gadis itu tersenyum lebar dan mengeluarkan kertas surat berwarna aqua dari amplopnya dan membacakan surat itu untuknya, “dear love, sangat penting bagiku untuk mengungkapkan betapa kau sangat berarti untukku. AKu harap aku dapat mengatakan hal ini langsung dihadapanmu sambil memegang tanganmu dan menatap langsung matamu walaupun aku tahu semua itu adalah hal mustahil bagiku untuk melakukannya. Kisah cinta ini, cintaku, hanyalah untuk didengar olehmu saja. Cerita cinta ini mengisahkan bahwa aku hanyalah mencintai satu orang saja dalam hidupku: kau. Simpanlah untukmu sendiri, cintaku, karena cinta ini, orang-orang tidak perlu tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu. Cinta ini, tidak ada satupun yang tahu karena hanya ada aku… dan kau.”

Dan dengan itu, Luhan diam-diam tersenyum karenanya.

 

/ I’m singing this love song only for you
A song that can be heard only by you
It’s me who will always sing you this
love song for only you /

Dia berlari secepat mungkin yang dia bisa. Dia bahkan mengiraukan Eunhyuk dan Kyuhyun yang berteriak memanggil-manggil namanya beberapa kali sehingga Eunhyuk akhirnya berkata ‘kau harus membayar hutang makan siang mu daripada berlari’. Perbuatannya tersebut juga telah menyebabkan dirinya menabrak Luna yang malang (yang terjatuh secara tragis ke lantai) yang tengah menyapanya dengan senyuman manis di wajahnya.

“Bodoh, bodoh, bodoh!” dia memaki dirinya sendiri. Ini semua karena Sooyoung. Bagaimana mungkin dia membuang surat miliknya yang paling berharga? Evil shiksin.

Akhirnya setelah menghadapi banyak rintangan yang menghadang (?), dia berhasil tiba di atap. Dia mengeluarkan selemar kertas berwarna aqua dari dalam saku celananya dan membacanya sekali lagi, “aku akan menunggumu di atap, setengah jam sebelum tengah malam.” dia melihat jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 23.48.

Dia jatuh karena lemas dan sembari masih mencoba mengatur nafasnya. “Aku datang!” dia berteriak keras.  “Aku tidak tahu apa kau masih disini atau tidak tapi yang jelas aku disini. Aku minta maaf karena aku terlambat. Bukan karena aku tidak mau datang menemuimu tapi ada sesuatu yang terjadi dan itu membuatku terlambat dan sekarang… disini lah aku. Terlambat dan gagal untuk menemuimu.”

Tepat setelah itu, matanya terbuka lebar ketika dia mendengar sebuah suara merdu yang menyanyikan sebuah serenade yang manis untuknya. Lagu yang dinyanyikan untuknya adalah ‘The Power of Love’. Lambat laun, dia akhirnya merasa familiar dan menyadari siapa pemilik suara itu sebenarnya.

“Luhan?” panggilnya hati-hati. Pria itu berhenti bernyanyi dan berkata, “berdirilah dan putar kepalamu kebelakang jika kau ingin melihatku.”

Dengan cepat dia mengikuti kata-kata pria itu. Dia berdiri dan secara perlahan memutar kepalanya kebelakang. Dia tersenyum lega ketika dia melihat sosok Luhan yang berada dihadapannya. “Sudah waktunya kau mengungkapkan perasaanmu padaku sepertinya.” wanita itu terkekeh. Luhan tertawa lembut dan berjalan menghampiri wanita dihadapannya, “tidakkah seharusnya kau merasa shock? Jadi kau sudah tahu bahwa itu aku.”

Wanita  melipat kedua tangan dan mengangkat bahunya, “ah, aku hanya bertanya-tanya kapan kau akan mengatakan padaku bahwa kau mencintaiku.”

Luhan mememluknya, “aku menyanyikan lagu ini hanya untukmu, lagu yang hanya dapat didengar olehmu.” ujarnya dengan senyuman. Dia mengeratkan pelukannya dan Luhan mencium pelan kepalanya, “akulah yang akan menyanyikan lagu ini untukmu, Yoong. Lagu yang hanyalah untukmu. Maaf karena aku telah membiarkanmu menunggu.”

“Aku tahu, Xi Luhan-ssi. Kau hanya orang bodoh seperti yang Taeyeon onnie selalu katakan padaku.” Yoona, nama gadis itu, mencubit bahu Luhan.  “I love you too, pabo.”

BEAU: chapter 1

 

“Selamat atas terpilihnya kalian!” Lee Soo Man berseru kencang dengan matanya yang berbentuk bulan sabit. Ketujuh gadis cantik yang berdiri di depannya pun tidak kalah gembira. Mereka tidak henti-hentinya menunduk dan memberi hormat kepada pendiri SM tersebut.

“Karena kalian saat ini sudah resmi terpilih dan tentunya sebentar lagi kalian akan melakukan debut kalian, hari ini aku akan memberikan kalian day off karena sebagai informasi saja, hari ini mungkin adalah hari terakhir kalian sebagai gadis-gadis biasa yang dapat menikmati hari-hari kalian secara normal. Ada yang mau ditanyakan?”

Gadis cantik berkulit gelap, Yoon Bora, mengangkat tangannya secara ragu-ragu. “Ya, ada apa, Bora-ah?” tanya Lee Soo Man.

“Sonsaeng-nim, apa nama grup kami nantinya dan siapa yang akan menjadi leader?”

Lee Soo Man tersenyum lalu menebarkan pandangannya ke gadis-gadis yang lain. “Untuk masalah itu kita akan bicarakan besok. Aku tidak mau mengganggu pikiran kalian dengan hal ini dulu terutama unutk hari ini. Jika sudah tidak ada yang ditanyakan lagi maka kalian dipersilahkan pulang tapi ingat! Besok pukul 6 pagi kalian sudah harus ada disini karena kalian harus siap-siap untuk masuk dorm. Apa kalian mengerti?” tanyanya lagi. Ketujuh gadis itu secara serempak menjawab ‘iya’ dan menganggukkan kepala mereka dengan semangat.

Setelah dipersilahkan keluar, Yoona adalah yang pertama kali berteriak sambil meloncat-loncat kegirangan. “KYAAAA!! Aku tidak percaya kita akan debut dalam satu grup!!!” teriak Yoona sambil memeluk erat Soojung, adik perempuannya. Soojung berusaha keras menjauhkan Yoona yang sedang high darinya sementara Kedua gadis berwajah imut tengah menangis sambil berpelukan. Keduanya bahkan tidak dapat mengeluarkan satu katapun karena air mata mereka. Bora, gadis berkulit gelap tadi, hanya bisa mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah mengabulkan impiannya sementara kedua gadis tinggi berambut panjang tidak dapat melepaskan tangan mereka satu sama lain dengan air mata mengalir di wajah mereka.

“Kira-kira siapa yang akan jadi leader di antara kita?” ulang Bora lagi. Soojung dengan santai mengangkat kedua bahunya dan berkata, “yang pasti bukan aku atau Suzy.”

“Aku rasa pilihannya hanya tinggal kau, Jihyun onnie atau Yoona onnie,” sambung gadis berperawakan mungil, Jieun. Yoona menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa dia tidak setuju dengan pemikiran Jieun. “Aku rasa pilihannya hanya Jihyun atau Bora onnie. Walaupun kami lahir di tahun yang sama tapi mereka berdua adalah onnie bagiku.”

“Semoga itu benar. Aku tidak bisa membayangkan masa depan grup ini jika onnie yang menjadi leader nya,” celetuk Soojung. Yoona menjelitkan matanya pada adik perempuannya yang dibalas dengan jelitan yang tidak kalah galak.

“Aku tidak ingin menjadi leader, tugas leader terlalu berat,” rengek Bora.

“Aku juga tidak ingin kau menjadi leader nya, onnie. Setiap kali kita di interview nantinya pasti kau akan tertawa sebelum mengatakan apa-apa,” sambung gadis tinggi berambut panjang.

“YA! Bae Suzy!” protes Bora.

“Sudahlah. Lebih baik kita sekarang pulang dan mengabari keluarga kit amasing-masing mengenai kabar bahagia ini. Lagi pula kita harus membereskan barang-barang yang akan kita bawa nanti ke dorm,” ujar Jihyun. Keenam gadis yang lain mengangguk setuju dan saling berpelukan sambil mengucapkan selamat tinggal satu sama lain.

Mulai hari ini, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya.

;

***

;

“Cukhae.” Luhan berucap dengan manis sambil memegang sebuah cupcake di tangannya. Yoona tersenyum lebar dan secara langsung memeluk Luhan dengan erat. “Yoong, aku susah untuk bernafas.”

Yoona terkejut dan dengan cepat melepas pelukannya dari Luhan. “Mianhae. Apa kau kesakitan?” tanyanya dengan nada khawatir. Luhan ,menggeleng sambil tertawa. “Aku heran bagaimana kau bisa begitu kuat sebagai seorang wanita. Terlebih lagi tubuhmu kurus.” tambahnya.

Yoona membuka mulutnya lebar-lebar dan menunjukkan ekspresi tersinggung di wajahnya. “Bagaimana… bagaimana bisa kau bilang aku adalah wanita kurus? Apa kau tidak bisa melihat aku ini SEKSI.”

Luhan mengeluarkan tawanya yang keras dan kencang melihat kelakuan pacarnya, “kau tahu, Yoong? Untuk gadis seumuranmu aku sangatlah kekanak-kanakkan.” Yoona membuka mulut dan matanya lebih lebar, tidak percaya bahwa pacaranya benar-benar mengatakan hal itu padanya. Melihat ekspresi wajah Yoona yang berubah, Luhan buru-buru menguasai dirinya dan berusaha menenangkan kekasihnya sebelum cupcake yang sekarang ini sedang berdiam manis di tangan Yoona melayang ke kepalanya.

“Mianhae. Mianhae Yoong~” Luhan mengeluarkan aegyo nya yang tentu saja membuat Yoona dengan mudahnya luluh. “Jadi, apa nama grup kalian nantinya?”

Yoona menggelengkan kepalanya, “Lee Soo Man sonsaeng-nim belum memberitahu kami.”

“Leader nya?” tanya Luhan lagi.

Yoona menatap kekasihnya dengan pandangan tidak percaya kemudian melipat kedua tangannya di atas perutnya, “Xi Luhan-ssi. Kau pikir dia akan memberitahu kami siapa yang menjadi leader tanpa berkata apa nama grup kami nantinya?”

Luhan menepuk pelan keningnya dan memberi Yoona sebuah cengiran manis di wajahnya. “Baiklah. Aku akanmemaafkanmu karena kau lucu.” ujar Yoona.

“Leader… Itu bisa saja kau, Yoong.” Luhan berkata pelan. Yoona terkekeh kecil, “atas dasar apa? Ah, apa karena aku tidak memiliki talenta apa-apa?”

Luhan terbelalak mendengar kata-kata Yoona. Luhan tahu bahwa selama ini Yoona selalu merasa bahwa dirinya tidak memiliki talenta khusus karena dia tidak begitu pandai bernyanyi tapi Yoona bisa menari. Luhan sendiri yakin bahwa setiap orang memiliki bakat yang berbeda di bidang yang berbeda-beda pula. “Kau tidak seharusnya bicara seperti itu.”

“Jujurlah, Han. Aku tidak akan marah jika kau sendiri berpikiran bahwa aku tidak memiliki talenta apa-apa. Seperti katamu, tubuhku kurus dan aku tidak menarik. Wajahku biasa-biasa saja dan aku juga tidak bisa menyanyi. Jujur saja, berada dalam grup yang sama dengan Soojung membuatku merasa khawatir. Aku tidak bisa bernyanyi sebaik Soojung, aku tidak bisa menari dengan baik, aku tidak secantik Jihyun onnie, aku juga tidak bisa rap seperti Bora onnie. Aku tidak tahu apa peranku nantinya dalam grup ini.”

Luhan menatap kekasihnya dengan iba. Bukan iba karena dia setuju dengan kata-kata Yoona namun dibalik sikap cerianya selama ini, Yoona menyimpan seribu kekhawatiran dan rasa tidak percaya diri pada dirinya sendiri. Luhan mendekati Yoona dan dengan pelan memeluk gadis itu dengan lembut.

“Kau tahu apa yang aku pikirkan ketika Lee Soo Man sonsaeng-nim berkata bahwa kami akan debut? Aku tidak bisa tidur semalaman. Bukan karena aku senang tapi karena aku merasa khawatir, sama sepertimu. Aku sadar bahwa aku tidak pernah menjadi nomor 1, Yoong. Aku adalah dancer kedua setelah Lay, vocalis kedua setelah Chen, visual kedua setelah Kai. AKu selalu menjadi yang kedua.

Tapi apa kau tahu apa yang Minseok katakan padaku? Dia berkata bahwa inilah hidup. Hidup tidaklah selalu berjalan seperti yang kau harapkan… atau juga seperti yang kau prediksi. Aku memprediksi semua orang akan meremehkanku, semua orang akan mengira aku hanyalah member yang hanya menjadi pelengkap dan hiasan. Tapi setelah aku debut, aku baru menyadari bahwa aku salah! Semua rasa khawatir itu tidak sebanding dengan mimpiku sebagai penyanyi.”

Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Yoona dalam-dalam, “aku tidak peduli orang lain berkata apa tentangku. Yang aku pedulikan hanyalah aku menikmati jalan yang telah ku pilih dan juga para fans yang mencintaiku karena aku adalah aku, bukan orang yang berusaha untuk menjadi manusia yang sempurna.”

Yoona tersenyum lembut mendengar kata-kata kekasihnya. “Jadi aku rasa kau tidak perlu khawatir dengan posisi atau talenta mu. Jika kau meragukan dirimu sendiri maka kau secara tidak langsung juga meragukan Lee Soo Man sonsaeng-nim. Dia memilihmu karena dia tahu kau bisa, Yoong, kau mampu! Jadi jangan pernah meragukan dirimu sendiri lagi, arasso?”

Yoona mengangguk kencang. “Ne. Terimakasih, Luhan-ah.”

 

***

 

Jihyun meletakkan pakaian terakhir yang akan dibawanya ke dorm. Gadis itu melekatkan pandangannya ke kamar tercintanya yang sudah ditempatinya selama lebih dari 20 tahun terakhir ini. Orang tua nya luar biasa bahagia ketika mendengar kabar bahwa Jihyun terpilih dan akan debut secepatnya. Jihyun duduk di kasurnya dan menutup matanya rapat-rapat. Dia mencoba untuk menghirup aroma kamarnya karena dia sadar bahwa semua ini tidak akan pernah sama lagi mulai dari sekarang.

“Jika aku yang akan menjadi leader maka aku akan menjadi leader yang baik, aku janji.”

 

***

 

“Jadi kau akan debut bersama Yoona noona? Dalam 1 grup?” tanya suara seornag pria kepada Soojung.

“Ehm.” gadis itu menjawab singkat.

“Sepertinya itu akan menarik.” pria itu berkata lagi. Soojung mengambil ice cream yang ada di tangannya dan memasukkan satu sendok besar ke dalam mulutnya.

“edhnthahlugh.” jawabnya.

“Apa?”

Soojung dengan susah payah menelan ice cream agar dia dia merespon kata-kata pacarnya. “Im Soojung! Apa kau sedang makan sekarang?” tanya pria itu denga suara keras. Setelah berhail menyingkirkan ice cream dari mulutnya, Soojung menaruh kembali telpon yang tadi sengaja dia jauhkan. “Aku sedang makan ice cream.” jawabnya santai.

“Im Soojung! Tahukah kau bahwa sekarang kau tidak boleh mengemil lagi? Terutama di malam hari seperti ini.”

“Aigoo~ Aku seharusnya percaya kata-kata pacarmu ketika dia bilang padaku bahwa kau itu sangat berisik.”

“Pacarku? Siapa? Bukankah pacarku itu adalah kau?” tanya pria bernama Sehun heran.

Soojung tertawa geli, “siapa lagi kalau bukan pasangan gay mu.”

“Luhan hyung?”

“Ya. Pacar dari pacarku yang kemungkinan akan menjadi kakak iparku juga.” jawabnya dengan tawa kecil.

“Soojung, sebaiknya kau bersiap-siap ketika kita bertemu nanti! Aku tidak akan tinggal diam!” ancam pria itu.

“Uuuuhhh~ aku takut.” jawab Soojung dengan canda.

 

***

 

“Aku senang akhirnya kita berdua bisa debut dalam grup yang sama.” Jieun berkata pada Jiyeon.

“Onnie, bagaimana denganku?” rengek Suzy pada Jieun yang seakan mengacuhkannya. Jieun dan Jiyeon tertawa keras karena kelakuan Suzy yang aneh. Jieun dan Suzy hari ini terpaksa bermalam di rumah Jiyeon karena mereka berdua tidak berasal dari Seoul. Ketiganya berkumpul dikamar Jiyeon, mengira-ngira apa yang akan terjadi besok saat mereka semua telah pindah ke dalam 1 dorm yang sama.

“Aku harap aku bisa 1 kamar dengan Yoona onnie.” ujar Jiyeon.

“Ya Park Jiyeon! Kau tidak mau sekamar denganku?” tanya Jieun tersinggung. Jiyeon mencibirkan lidahnya pada sahabatnya sambil tertawa terbahak-bahak. “Kalau aku ingin sekamar dengan Bora onnie.” sambung Suzy.

“Bae Suzy!” Jieun kembali mengirimkan tatapan tajamnya ke arah Suzy. Jieun mengeluarkan nafas berat dan mendesah, “baiklah kalau begitu aku rasa aku harus sekamar dengan Jihyun onnie.”

“Bagaimana dengan Soojung?” tanya Suzy.

“Ya! Kalian seumur jadi seharusnya kalian berdua menjadi room-mate.” ujar Jiyeon pada sang magnae. Suzy menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Aku lebih baik mejadi rakn sekamarnya Yoona onnie dbandingkan dengan Soojung.”

Jiyeon dan Jieun saling bertukar pandang heras. “Wae? Apa kalian bertengkar?”

Suzy menggeleng, “aku tidak terlalu dekat dengannya. Lagi pula Soojung adalah orang yang chic sehingga aku tidak pernah benar-benar mengobrol dengannya. Sekamar dengannya pasti akan sangat canggung.” jawab Suzy pelan, meninggalkan kedua sahabat nya, Jiyeon dan Jieun, tertegun heran.

 

***

 

Jihyun datang paling awal. Dia tiba di kantor setengah jam lebih awal dari apa yang diperintahkan oleh Lee Soo Man. Jihyun diperintahkan untuk menunggu Lee Soo Man di ruang kerjanya. Merasa jenuh menunggu sendirian, Jihyun mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Yoona, menyuruhnya agar cepat datang.

Setelah kurang lebih 2 menit, Jihyun mendapatkan balasan dari Yoona yang mengatakan bahwa dia sudah berada di dekat kantor bersama Soojung. Bicara mengenai Soojung, Jihyun jujur saja cukup khawatir dengan bagaimana jadinya ketika mereka bertujuh telah tinggal dalam 1 dorm. Soojung bukanlah orang yang dapat bersosialisasi dengan orang lain dengan baik, berbeda dengan Yoona yang dapat mengakrabkan diri pada orang yang bahkan baru 5 menit dikenalnya.

Soojung tidak pernah bersikap kurang ajar atau tidak sopan kepada orang lain, hanya saja dia tidak pernah benar-benar mencoba untuk membuka atau bahkan mendekatkan diri kepada trainee-trainee yang lain. Soojung hanyalah dekat dengan member f(x) seperti Luna dan Victoria, sesekali dia juga mengobrol bersama Sulli tapi dengan trainee-trainee yang lain? Jihyun berpikiran akan susah untuk Soojung dapat menyesuaikan dirinya dalam grup ini.

“Onnie.”

Jihyun memutar kepalanya dan mendapati Jieun, Jiyeon dan Suzy tengah melambai kearahnya. Jihyun tersenyum karena akhirnya kesendiriannya telah berakhir dan memberi gesture pada ketiganya untuk segera masuk ke dalam ruangan.

“Sejak kapan kau datang?” sebuah suara lagi, Bora, kembali terdengar. Gadis yang memiliki kulit paling gelap diantara gadis-gadis yang lain itu masuk dengan senyum lebar di wajahnya. Jihyun sangat menyukai Bora. Dia adalah sahabat sekaligus seseorang yang dapat Jihyun andalkan ketika dirinya merasa sedih atau bahkan down. Bora menepuk pundak Jihun dan memberinya sebuah pandangan penuh arti.

“Apa?” tanya Jihyun heran. Bora hanya menggeleng pelan sambil terus tersenyum ke arahnya.

“Apa kami yang terakhir?” suara khas milik Yoona akhirnya melengkapi kehadiran mereka.

“Annyeonghaseyo.” sapa Soojung singkat.

“Aee… Kenapa kau harus bersikap terlalu formal, Soojung-ah?” ujar Bora sambil menepuk pundak gadis itu dengan main-main. Soojung nampaknya sedikit terkejut dengan aksi Bora tapi dia hanya memilih untuk tersenyum canggung pada member yang lebih tua itu.

“Lee Soo Man sonsaeng-nim belum datang?” tanya Suzy sambil terus melirik kearah jam tangannya.

“Sonsaeng-nim sedang ada di US sekarang.” Kangta, salah satu senior di SM Entertainment, berada di hadapan mereka alih-alih sosok Lee Soo Man. Ketujuh gadis yang tadinya terkejut buru-buru mengikuti perintah Jihyun untuk segera menunduk pada senior mereka.

“Oh, kau memiliki respon yang sangat cepat, Jihyun-ssi. Aku rasa itu alasan Bora menolak untuk menjAdi leader dan malah menyarankan untuk memilihmu.” ujar Kangta.

Jihyun yang merasa bingung dengan kata-kata Kangta langsung menengok ke Bora yang sekarang sedang tersenyum padanya. Kangta yang mengerti bahwa para gadis-gadis ini tengah bingung buru-buru melanjutkan kata-katanya.

“Untuk project debut kalian, aku lah yang akan bertanggung jawab, buakan Lee Soo Man sonsaeng-nim. Aku yang telah memilih kalian bertujuh diantara 30 trainee yang lain setelah melihat profil dan keseharian kalian selama masa-masa trainee. Sebenarnya, aku telah memilih Bora untuk menjadi leader kalian namun sayangnya,” Kangta mengehnatikan kata-katanya sebentar, “Bora menolak tawaran itu dan menyarankanku untuk memilih Jihyun karena dia merasa Jihyun lebih pantas untuk menjadi seorang leader.” Kangta tersenyum pada Jihyun yang masih shock.

“Bagaimana dengan yang lain? Apa kalian setuju Jihyun menjadi leader kalian? Jika kalian tidak setuju maka kalian bisa mengangkat tangan kalian.” ruang kerja Lee Soo Man tiba-tiba menjadi sunyi dan tidak ada satu gadis pun yang mengangkat tangan mereka. Kangta menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Baiklah! Aku rasa kita semua setuju bahwa Jihyun lah yang akan menjadi leader kalian. Baiklah, untuk sekarang, lebih baik kita lanjutkan rapat ini sambil duduk, oke?” ketujuh gadis itu mengangguk dan kembali duduk setelah mempersilahkan senior mereka duduk terlebih dahulu.

“Aku akan membagikan posisi kalian dalam grup, penempatan kamar di dorm dan… memutuskan bersama-sama apa nama yang cocok ntu grup kalian.” para gadis itu mengangguk pelan. “Baiklah. Kita akan bicarakan masalah vokalis terlebih dulu, ok? Setelah melihat kemampuan kalian, aku memutuskan agar Jieun menjadi vokalis utama. Setelah itu Soojung akan menjadi lead vocal pertama dan Suzy menjadi lead vocal kedua.” ketiga gadis yang namanyadisebutkan mengangguk pertanda mereka sudah mengerti.

“Kemudian untuk rapper, aku rasa kita semua sudah tahu kan? Bora yang akan menjadi rapper tapi untuk berjaga-jaga, aku juga telah memilih Jiyeon untuk menjadi sub-rapper. Untuk dancer, Yoona akan menjadi main dancer diikuti oleh Jiyeon sebagai lead dancer pertama dan Jihyun ditempat kedua. Aku tidak akan memberikan Jihyun tugas-tugas yang sulitbkarena menjadi leader itu sendiri sudah merupakan sebuah tantangan yang besar. Jihyun juga akan menjadi spokeperson dari grup ini. Kalian tentunyabtahu bahwa dinsetiap grup memiliki visual atau center masing-masing kan? Untuk hal itu, aku telah memilih Yoona yang akan menjadi face of the group maka dari itu Yoong, aku harap kau bisa bersikap sedikit lebih feminim,” Kangta memandang Yoona dengan serius dan dibalas dengan senyuman nakal dari gadis itu.

“Dan selain itu setelah melihat profil kalian ternyata Soojung adalah member yang lahir termuda jadi tentunya Soojung lah yang menjadi magnae resmi disini walaupun dia dan Suzy lahir di tahun yang sama.

Kemudian mengenai masalah pembagian kamar di dorm. Aku memutuskan bahwa Jihyun akan sekamar dengan Jieun dan Bora, Jiyeon bersama Yoona akan menjadi roommate sedangkan para magnae akan menggunakan kamar yang sama. Kalian tidak boleh seenaknya mengatur ulang susunan ini karena aku sendiri lah yang telah menentukan siapa yang menjadi rommate kalian setelah mengawasi kalian beberapa minggu ini.

Setelah itu aku secara pribadi menyarankan kalian untuk memakai nama asli kalian sebagai stage name. Apa kalian setuju? Aku tidak keberatan jika kalian menolak.” Semunya pun menggangguk dan menerima saran Kangta.

“Maksud dari saranku tersebut adalah agar kalian terus diingat sebagai diri kallian sendiri. Akan lebih baik bila orang di atas maupun di belakang panggung mengenali kalian dengan nama dan kepribadian yang sama jadi menurutku hal itu akan lebih baik dan untungnya kalian semua setuju jadi kita semua tidak memiliki masalah dengan hal itu, betul?

Dan sekarang… mengenai masalah nama grup kalian. Aku telah mendiskusikan hal ini dengan BoA dan Tiffany. Sebenarnya Tiffany lah yang telah memberikan nama ini untuk grup kalian tapi kami semua tidak keberatan apabila kalian menolak dan memiliki opini sendiri mengenai nama yang lain. Nama yang Tiffany pilih dan sarankan pada kalian adalah beau. Beau berasal dari bahasa Prancis yang memiliki arti beautiful dalam bahasa Inggris. Beautiful sendiri bisa memiliki berbagai arti dan semua artinya adalah hal yang bagus atau baik. Beautiful sendiri bisa berarti cantik atau indah, sama seperti kalian semua. Nama ini dapat mewakili visual dan talenta kalian yang baik. Bagaimana menurut kalian?”

Para gadis itu diam setelah ‘pengumuman’ besar dai Kangta berakhir. Terlalu banyak hal yang terpintas dalam benak mereka dan masalah nama grup bukanlah hal yang paling penting saat ini. “Ehem.” Kangta mencoba untuk memecahkan lamunan para gadis ini. Jihyun adalah yang pertama menanggapi pertanyaan Kangta. “Aku menyukai nama itu, sunbae-nim.” jawabnya.

“Aku juga. Beau adalah nama yang bagus.” tambah Yoona disambut anggukan dari yang lainnya.

“Dalam beberapa bulan ini, kalian telah mereka 4 lagu dan mempelajari koreografi untuk lagu-lagu itu kan?” tanya Kangta dan kembali dijawab dengan anggukan dari gadis-gadis dihadapannya.

“Sebagai informasi saja, lagu-lagu itu adalah lagu-lagu ang yang akan masuk dalam mii album kalian.”

“Mini album?” tanya Bora kaget dan tidak percaya. Kangta mengangguk. “Pantas saja Young Jin sunbae-nim menyuruh kami untuk seserius mungkin ketika rekaman.”

“Kalian tidak menyadari atau setidaknya curiga?” tanya Kangta kaget, kali ini dia lah yang tidak percaya. Ketujuh gadis itu menggelengkan kepala mereka. ” Victoria onnie bilang bahwa itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh para trainee.” jawab Soojung polos. Kangta tertAwa keras dengan kepolosan gadis-gadis dihadapannya.

“Tentu saja tidak, Soojung-ah. Ah… baiklah. Jadi mari lihat lagu yang telah kalian selesai rekam,” ujarnya sambil membalik-balik kertas yang ada ditangannya. “Danger, Mirror Mirror, Ma Boy dan Tell Me Your Wish. Jadi lagu yang belum selesai hanyalah tinggal You and I, I Go Crazy Because of You dan Breathe. Ketiga lagu ini harus kalian selesaikan dalam waktu 2 minggu karena debut kalian hanya tinggal kurang dari 30 hari atau kurang dari 1 bulan.”

“Yeeee?” koor para gadis itu. Kangta mengangkat alisnya, “apakah terlalu cepat? Aku rasa tidak dan akunyakin kalian dapat menyelesaikan 3 lagu ini dalam waktu 1 minggu karena kalian tidak perlu menghafal lagu ini, kalian hanya cukup berlatih dan merekam dengan baik berhubung lagu-lagu ini todak akan kalian tampilkan di acara-acara musik broadcast. Dan untuk lagu You and I, Young Jin sunbae-nim telah berkata padaku bahwa lagu ini akan dinyanyikan oleh trio vokalis alias Jieun, Soojung dan Suzy.

2 minggu sebelum debut, kita akan mulai merilis foto teaser, profil sekaligus MV teaser kalian. Aku tahu ini terkesan sangat terburu-buru tapi kita hanya memiliki sedikit waktu mengingat kita akan memiliki banyak konser SMTown dan tahun depan kami akan disibukkan dengan konser solo para senior kalian seperti SNSD, SHINee dan Super Junior. Jadi aku harap kalian bisa mengerti jika semua ini dilakkan dengan agak sedikit buru-buru.” jelasnya lagi. Para gadis itu kembali mengangguk.

“Dan untuk Yoona dan Soojung,” kedua gadis itu langsung mengangkat kepala mereka dan melihat ke arah Kangta. “Aku tahu pastinya sulit bagi kalian untuk berada dalam satu tim tapi aku tetap berharap dari kalian untuk memperlakukan satu sama lain secara profesional setiap kali kalian bekerja dihadapan kamera. Kalian semua harus saling membantu satu sama lain dan cobalah untuk mendekatkan diri pada member-member yang lain jika kalian masi merasa canggung dengan salah satu member atau bahkan mungkin lebih. Walaupun kalian tidak memiliki hubungan darah tapi anggaplah member-member yang lain sebagai keluarga kalian, saudara perempuan yang harus kalian dukung dan lindungi. Mengerti?”

Para gadis itu menjawab iya dan mengangguk tanda mereak telah mengerti. “Apa ada pertanyaan?” semuanya menggeleng. “Baiklah. Kalau begitu kalian dipersilahkan untuk bubar dan pergi menuju dorm kalian yang sekarang. Mananger kalian telah menunggu dibawah dan mulai saat ini kalian akan memiliki manager dan van kalian sendiri. Arasso?” mereka yang tadinya masih dalam keadaan shock langsung tersenyum dan menggangguk semangat setelah mendengar kata van dan manager. Setelah mengucapkan terima kasih dan permisi pamit pada Kangta, ketujuh gadis itu buru-buru mengangkut barang-barang meka dan segera turun kebawah.

“Semoga sukses, Beau.” gumam Kangta dengan senyum bangga di wajahnya.

 

——-

a/n: wuiiihhhh~ Panjang yah! Kayanya baru kali ini deh aku bikin ff sepanjang ini. Gimana? Kalian suka? Kalo suka komen donk, jangan cuma numpang baca dan diem aja, okeh? Read it, Love it and COMMENT!

[New Series] BEAU: Members’ Profile

Setelah mengungkapkan bahwa mereka akan mendebutkan girl group baru, hari ini SM Entertainment, salah satu agensi terkemuka di Korea Selatan sekaligus pemimpin Hallyu wave, merilis foto sekaligus profil ketujuh member B.E.A.U

Birth Name: Nam Ji Hyun

Stage Name: Jihyun

Birthday: January 9, 1990

Height: 167 cm

Weight: 49 kg

Blood Type: A

Position: Leader, Sub-vocalist

Nickname: nam-leader, namGee, bagel girl, omma

Facts:

  • Ji Hyun berkuliah di Universitas Sangmyeong
  • Ji Hyun ahli menari balet
  • Ji Hyun juga dipanggil sebagai ibunya ‘Beau’

Birth Name: Yoon Bo Ra

Stage Name: Bora (보 라)

Position: Rapper, Vocalist

Birthday: January 30, 1990

Nickname: shiksin, cute bora, athlete-dol

Facts:

  • Bora dalah salah satu shiksin di ‘Beau’
  • Bora memiliki kulit paling gela diantara member yang lain
  • Bora tidak akan bertambah gemuk sebanyak apapun makanan yang dia makan

Birth Name: Im Yoon Ah

Stage Name: Yoona

Birthday: May 30, 1990

Position: Vocalist, Main Dancer, Face of The Group

Height: 168 cm

Weight: 48 kg

Blood Type: B

Specialty: Dancing, acting

Nickname: Yoong, choding, deer, doe-eye Yoonna, Him Yoona, agoo-yoong, ImActress, charming girl, nation’s ideal girl

Facts:

  • Yoona berkuliah di Dongguk University
  • Yoona adalah kakak peremuan dari Soojung
  • YoonA dipanggil ‘choding’ karena dia merupakan member paling jahil dan usil di Beau

Birth Name: Lee Ji Eun

Stage name: Jieun

Birthday: May 16, 1993

Position: Main vocalist

Height: 162 cm

Weight:  47 kg

Blood Type: A

Seciality: Guitar, piano

Nickname: Nation’s little sister

Facts:

  • Jieun bersahabat dengan Jiyeon sejak SD dan bersahabat dengan Luna f(x) ketika ketiga nya menjalani masa pelatihan bersama
  • Jieun memiliki tawa yang mirip dengan SNSD Taeyeon yang terdengar seperti ajhumma
  • Jieun menulis beberapa lagu dalam album Beau

Birth Name: Park Ji Yeon

Stage Name: Jiyeon

Birthday: June 7, 1993

Height: 167 cm

Position: Vocalist, Lead Dancer

Blood Type: AB

Nickname:

Facts:

  • Jiyeon adalah salah satu shiksin di Beau
  • Jiyeon bersahabat dengan Jieun dan Luna f(x)
  • Salah satu hobi Jiyeon adalah tidur

Birth Name: Bae Sue Ji

Stage Name: Suzy

Birthday: October 10, 1994

Position: Lead Vocalist, Lead Rapper

Weight: 49 kg

Height: 167 cm

Nickname: Nation’s first love, big feet

Fatcs:

  • Suzy lahir di Gwangju, Korea Selatan
  • Suzy sangat suka selca
  • Pria idealnya adalah aktor Lee Min Ki

Birth Name: Im Soo Jung

Stage Name: Soojung

Birthday: October 24,  1994

Position: Lead Vocalist,  Sub-dancer, magnae

Height: 165 cm

Blood Type: A

Nickname: magnae, ice princess, cooking princess, sexy magnae

Facts:

  • Soojung adalah adik perempuan dari Yoona
  • Walaupun bersaudara namun kepribadian Yoona dan Soojung amat berbeda dan bertolak belakang satu sama lain
  • Soojung pandai berbahasa Inggris

B.E.A.U First Mini Album:

1. Danger (Title)

2. Tell Me Your Wish (2nd Title)

3.  Breath

4. Mirror Mirror

5. I Go Crazy Because of You

6. Ma Boy

7. You and I (Jieun, Soojung,  Suzy)

Note:

Beberapa fakta yang tidak diungkapkan oleh SM Entertainment:

– Yoona dan EXO-M Luhan adalah sepasang kekasih sejak 2008
– Jieun dan EXO-K D.O menjalin hubungan selama 3 tahun namun putus ketika keduanya hendak debut
– Soojung dan EXO-K Sehun juga merupakan pasangan kekasih

[New Series] SM’s New Girl Group: Beau

Kata ‘beau’ yang merupakan bahasa Prancis dari kata ‘beautiful’ memiliki beberapa arti kata: indah, cantik, rupawan.

Setelah berhasil dengan debut EXO-K dan EXO-M, SM Entertainment memutuskan untuk kembali mendebutkan sebuah girl group beranggotakan 7 orang dan diberi nama ‘BEAU’.

BEAU sendiri dijadwalkan untuk debut tidak lama setelah senior mereka, EXO, melakukan debut mereka. BEAU akan debut melalui SBS Inkigayo pada 2 September.

Berbeda dengan girl group lain yang cenderung mengusung konsep cute, sexy dan innocent, BEAU sendiri akan tampil pertama kalinya ke hadapan publik dengan konsep yang fierce, sexy dan independent.

Dengan anggota berusia 23 sampai dengan 19 tahun (umur Korea), BEAU di prediksi akan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas.

 

B.E.A.U photo teaser

 

 

a/n:

Gimana? Merasa tertarik ga sama konsep ceritaku kali ini? Aku tau aku emang ga becus dalam hal seri menyeri kalo bikin cerita tapi entah kenapa ide ini tiba-tiba aja muncul dan ceritanya pun ga berat kok jadi aku rasa aku bisa nyaman aja nulis cerita ini makanya aku beraniin buat nge-post.

Dan masalah member-member nya, ketujuh member ini aku ambil dari berbagai grup cewe yang udah debut dan akan pakai nama yang sama. Misalnya kalo salah satu cast nya yang aku ambil itu SNSD Tayeon yah aku tetep namain dia sebagai Taeyeon. Paling-paling kalo yang punya stage name nya pake bahasa Inggris (ex: Krystal) mana aku bakalan namain dia disini pake nama aslinya yaitu Jung Soojung dengan stage name ‘Soojung’.

Aku bakal tunggu sampe besok sore. Kalo banyak yang suka dan komen maka aku bakal lanjutin cerita ini dan kemungkinan nge-post profil ketujuh member ini besok sore/malam. Tapi kalo banyak yang liat tapi ga respon yah aku anggap kalian/mereka ga suka dan cerita ini kemungkinan akan aku hapus. So, let me know your thought, readers. :DD

[OneShot] The Deers

cast: Xi Luhan – Im Yoona

“Permisi.”

Yoona menghentikan langkahnya ketika dia mendengar suara seorang pria memanggilnya. “Aku rasa ini milikmu,” ucap pria itu sembari menyodorkan sebuah kotak kecil dan secarik kertas. Yoona mengernyitkan dahinya dan menatap pria itu dengn heran.

“Maafkan aku. Aku bukanlah fans mu tappi aku rasa kau adalah ‘deer’ kan? Itu cukup terkenal, kau tahu? Jadi aku rasa ini adalah milikmu. Seseorang menjatuhkan ini disana,” pria itu menunjukkan tempat dimana dia menemukan hadiah itu.

Yoona sadar bahwa tida baik baginya jika dia terus menaatap pria itu tanpa memberikan respon apapun. Gadis itu tersenyum simpul dan menundukkan kepalanya sambil mengucakan terimakasih.

Setelah dengan sopan membiarkan pria itu pergi, Yoona masuk ke gedung SM Entertainment dengan kedua benda tadi di tangannya. “Apa itu?” tanay Sunny sambil lalu.

“Huh? Hadiah dari fan,” jawab Yoona singkat sambil meletakkan kotak yang ada di tangannya ke atas meja namun mengambil surat dan membukanya. Yoona memang lebih tertarik dengan surat dari fans ketimbang hadiah. Melalui surat, Yoona dapat merasakan kasih sayang fans kepadanya sedangkan melalui hadiah, perasaan itu sendiri tidak begitu terasa olehnya.

Mta Yoona sedikit terbuka lebar ketika menemukan surat itu berisi tulisan Cina yang sedikit berantakan. Walaupun Yoona tidak terlalu fasih berbahasa Cin namun dia tidak begitu bodoh untuk menyadari bahwa surat ini bukanlah ditujukan olehnya.

“Sepertinya ini bukan milikku,” Yoona bergumam namun suaranya cukp keras untuk didengar oleh member yang lain.

“Apa? Hadiahnya?” tanya Sunny. Yoona mengangguk. “Joohyun, bisakah kau bacakan ini untukku?”

“Maaf onnie tapi aku sudah lama tidak belajar bahasa Cina, akuu sudah lupa.” ujar Seohyun pelan. Yoona mengangkat kedua bahunya dan mengambil kotak yang tadi dia letakkan di atas meja. “Mungkin sebaiknya ku tanya Ambr saja.”

———–

“Onnie, apa sekarang kau sedang menggodaku?” tanya Amber dengan nada tersinggung. Yoona mengangkat kedua alisnya melihat kelakuan aneh Amber. “Aa maksudmu? Aku hanya meminta kau untuk menerjmahkan ini untukku.”

“Kau tahu persis bahwa aku tidak bisa bicara bahasa mandarin atau membaca huruf-huruf ini!” ujar Amber dengan nada agak tinggi.

Yoona membelalakan matanya. Telinga dan otaknya sangat sulit untuk percaya bahwa Amber Liu, seorang wanita keturunan Cina, tidak bisa bicara atau membaca bahasa dan tulisan menadrin. “BENARKAH?”

Amber mengangguk pelan dengan ekspresi tersinggung di wajahnya. “I’m sorry,” Yoona berbicara dengan bahasa Inggris dan merangkul pundak Amber. “I’m sorry, Liu. Aku janji akan mentraktirmu makan ice cream.”

“Onnie! Aku bukanlah anak kecil yang bisa kau bujuk dengan ice cream!”

“Baiklah, Liu. Kaau mau rasa apa?” Yoona menghiraukan ajukan Amber.

“Strawberry mint.” jawabnya dengan aegyo.

———————-

“Aku sedang di appguejong sekarang.”

“Sekarang?”

“Ehm. Lagipula aku tidak bisa membaca tulisan  andarin. Kau lebih baik minta tolong Victoria noona atau Zhoumi ge.”

“Jika mereka ada isini sekarang apa kau pikir aku akan menelponmu?”

“Jadi mereka tidak ada di kantor? Oooohhh!!! Apakah mereka sedng berkencan? Kau tahu, semenjak keduanya bermain di drama yang sama, mereka menjadi semakin dekat. Mereka bahkan menamai diri mereka sendiri sebagai ZhouToria dan aku rasa—” Yoona memutuskan teleponny karena tujuan tidak baik Henry yang ingin menggosipkan rekan satu tim nya.

“Siapa yang bisa membantuku?” Yoona kembali berpikir. “Tapi tunggu dulu! Pria itu berkata bahwa ini kedua benda ini adalah milik ‘deer’, itu tandanya ada ‘deer’ yang lain selain diriku di perusahaan ini. Aaah! Kenapa aku bodoh sekali!” Yoona meneuk keningnya sendiri dan dengan cepat berlari ke bagian informasi.

“Annyeonghaseyo onnie, apa boleh aku meminjam mic untuk membuat sebuah pengumuman?” pinta Yoona ada kedua wanita yang bertugas di front office. Wanita itu mengangguk dan membiarkan Yoona menggunakan mic tersebut.

“Ehem… A..a..a… Perhatian, perhatian! Annyeonghaseyo, SNSD Yoona imnida. Ehm, ada seorang pria yang memberiku sebuah hadiah beserta surat yang ditujukan untuk ‘deer’.  Seperti yang kalian tahu, satu-satu nya ‘deer’ di perusahaan ini adalah aku tapi aku rasa benda ini bukan ditujukan untukku karena surat ini bertuliskan tulisan mandarin. Jadi, jika ada salah satu dari kalian yang bernama ‘deer’ dan merasa bahwa hadiah ini milikmu maka aku menunggumu di front office saat ini juga. Terima kasih. Chigeumun SNSD! Khamsahamnida.”

Yoona mengakhiri ‘pengumuman’ khusus miliknya, Yoona mengucapkan terimakasih kepada kedua etugas wanita dan duduk di sofa untuk menunggu pemilik nama ‘deer’ selain dirinya.

Yoona menunggu cukup lama, kira-kira 15 menit hingga dia sendiri merasa bosan. “onnie, apa belum ada yang datang?” tanyanya pada petugas informasi. Kedua wanita itu tersenyum dan menggeleng.

Baru saja Yoona berdiri dari duduknya untuk beranjak pergi sebelum akhirnya ada seorang pria yang terengah-engah datang di hadapannya.

“Apakah.ada.yang.mencariku?” tanyanya pada dua wanita tadi. Salah satu dari wanita itu menunjuk ke belakang pria itu, ke arah Yoona.

“Luhan-ssi?” tanya Yoona kaget.

 

———————-

 

“Jadi maksudmu nama panggilannya juga ‘deer’?” Yuri dan Jessica bertanya setelah Yoona menyelesaikan ceritanya. Yoona mengangguk pelan.

“Waaahh, jadi sekarang SM memiliki 2 deer.” ujar Yuri antusias.

“Aku bingung bagaimana dia bisa mendapatkan nama panggilan yang sama denganku.” Yoona bergumam sendiri.

 

-The end-

Gantung? Emang sengaja :p Aku baru sadar kalo ternyata couple ini punya banyak ersamaan dan setiap persamaan yang mereka punya bakal aku tulis dalam 1 cerita yang berwujud one-shot. So, enjoy the story and please do commens! 😀

[One-Shot] As Another Woman

Ada yang suka couple LuYoon? Well, I wrote a oneshot about them so enjoy yourself reading it and don’t forget to leave a comment, okay?

 

Image

As Another Woman
Im Yoona – Xi Luhan

 

Im Yoona, seorang wanita berusia sekitar 28 tahunan duduk diam di sebuah ayunan yang berada di belakang teras rumahnya. Wanita itu memiliki semua yang wanita lain inginkan: harta, rumah, pekerjaan, suami dan… keluarga.

Wanita itu mengeluarkan desahan berat, mengisyaratkan bahwa dia memiliki hari yang begitu berat. Sesekali wanita itu menyisir rambutnya dengan jemarinya yang lentik dan memijit keningnya yang bahkan tidak terasa pusing sedikitpun.

“Nyonya, Tuan sudah pulang,” pembantu keluarga mereka yang sudah bekerja bahkan sebelum Yoona lahir, menyadarkan wanita dari lamunan panjangnya. Dia menutup buku yang sedari tadi berada di tangannya dan tersenyum hangat kepada wnaita paruh baya itu.

“Arasso,” ucapnya singkat kemudian bangkit dan membenarkan pakaiannya yang sedikit kusut. Dia mengehmbuskan nafas panjang kemudian ‘memasang’ senyuman manis di wajahnya, senyuman yang hanya dia tunjukkan ketika suaminya sednag berada di dekatnya.

“Selamat datang,” sapa Yoona pada suaminya yang tersenyum dengan kehadiran istrinya. Yoona mengambil tas kerja suaminya, membantunya melepaskan jas yang sedikit lembab karena keringat dan membukakan dasi suaminya.

“Hari yang berat, ada beberapa file yang… kacau.” ujarnya. Yoona memberikan tatapan ‘benarkah?’ kemudian memijit pelan pundak suaminya.

“Apa yang terjadi?” tanya Yoona.

“Sekretaris baruku, dia membuatku menandatangani dokumen yang salah. Itu adalah kesalahan fatal.”

“Mungkin itu terjadi karena dia masih baru dengan pekerjaan ini, beri dia sedikit keringanan,” Yoona berucap pelan, nada bicaranya tidak mengisyaratkan bahwa dirinya menentang pendapat Luhan, suaminya, namun dia hanya ingin suaminya menjadi sedikit tenang.

Luhan berbalik dan mencium pipi istriya, “itu sebabnya aku belum memecatnya,” Luhan tersenyum. Yoona balas mencium pipi suaminya dan menarik tangan Luhan menuju kamar mereka. “Kau harus mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.”

“Kau memanglah yang terbaik, Yoong.” Luhan mencium Yoona lagi, kali ini tepat di bibirnya. Wajah Yoona memerah namun dia tidak bias menyembunyikan senyum bahagianya. “Aku tahu.”

 * * *

Yoona terbangun karena cahaya lampu tidur yang masih menyala. Dia mengusap-usap matanya dan mendapati suaminya yang tengah duduk di sebuah kursi besar yang terletak di sudut kamarnya. Luhan, suaminya, memegang sebuah foto di tangannya. Wajahnya basah karena air mata. Luhan sesekali sesegukan walaupun Yoona tahu dia berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara apapun. Yoona menutup matanya dan melanjutkan tidurnya, memutuskan untuk memberikan suaminya waktu untuk sendiri.

 * * *

“Pagi,” sapa Luhan yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia mencium kepala Yoona yang sedang mengoleskan selai di atas roti.

“Kau ingin makan apa? Nasi atau roti?” tanya Yoona sambil tetap melakukan aktivitasnya.

“Aku tidak terlalu nafsu makan pagi ini, roti saja cukup,” jawab Luhan sembari meneguk kopi nya.

“Bagaimana tidurmu semalam, yeobo?” tanya Yoona, nada bicaranya sangat hati-hati.

“Baik,” jawab suaminya pelan. “Bagaimana denganmu?” tanyanya. Yoona hanya mengangguk tanpa menjawab apa-apa. Setelah selesai, dia memberikan 2 potong roti dengan selai kacang dicampur cokelat kepada suaminya. Luhan tersenyum gembira karena itu adalah makanan kesukaannya.

“Hari ini aku akan pergi ke luar bersama Sooyoung onnie,” ujar Yoona. Dirinya tidak sedang meminta izin kepada suamminya, Yoona hanya sekedar ‘memberi tahu’.

“Oya? Bersama Sooyung noona? Kalian akan pergi kemana?” tanya Luhan sambil melahap rotinya.

“Kau tidak ingat? Hari ini adalah peringatan kepergian Seohyun yang ketiga,” Yoona berkata dengan sedikit sarkastik. Luhan mengganggukkan kepalanya dengan pelan, “ah, benarkah? Tidak terasa sudah 3 tahun. Kalau begitu pergilah. Kau tidak akan pulang malam kan?” Luhan berkata singkat.

Yoona menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya namun dia tetap mengangguk menanggapi kata-kata Luhan. “Ya, aku tidak akan lama-lama.” Atau mungkin aku tidak akan pernah kembali lagi.

 * * *

Pergi bersama Sooyoung hanyalah alasan bagi Yoona agar Luhan membiarkannya pergi hari ini. Yoona yang datang ke makan Seohyun sendirian hanya menatap foto Seohyun dengan tatapan kosong. Dirinya ingin  teriak, marah bahkan memaki-maki namun dia sadar bahwa itu semua tidak ada gunanya, Seohyun tidak akan pernah mendengar atau bahkan meresponnya. Walaupun Yoona sudah menganggap Seohyun seebagai adik kandungnya sendiri sejak lama, namun tetap saja Yoona membencinya karena Seohyun lah yang telah menyeretnya ke neraka yang sedang dia jalani sekarang.

“Kau, apa kau sedang tertawa melihatku sekarang? Apa kau puas karena kau sudah menyeretku ke  neraka bersamamu? Jawab aku, Seo Joohyun. JAWAB AKU!” Yoona, yang sudah tidak bisa menahan emosinya, berteriak dengan kencang.

 * * *

“Apa perlu kau menyiksaku seperti ini? Apa? Apa salahku padamu? Aku menyayangimu, Seohyun, aku menyayangimu,” Yoona terjatuh karena kedua kakinya sudah tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya.

“Kenapa… kenapa kau harus mengambil satu-satunya orang yang aku cintai? Kenapa, bahkan setelah kau pergi, dia tetap tidak melihatku? Semuanya selalu tentang dirimu! Dia melihatku sebagai kau, Seohyun. Aku muak dengan semua ini? Kenapa kau tidak membiarkanku 3 tahun yang lalu? Kenapa kau harus menarikku dan membiarkanku hidup di nereka seperti ini?” Yoona kembali terisak.

“Kau tahu? AKu sudah tidak menginginkannya lagi. Kau boleh mengambilnya jika kau mau, aku tidak peduli. Aku tidak mau lagi menjadi istri yang pura-pura bahagia, memasang senyuman palsu dan bodoh untuk menyambut suami yang bahkan tidak ingin disambut olehku. Aku tidak ingin menjadi istri dari laki-laki yang setiap malam selalu menangis memandangi foto wanita lain, kau. Ambil Seohyun, ambil semuanya. AKu sudah tidak membutuhkan semua itu lagi! Kau mendengarku?”

Dengan itu, Yoona kembali menangis terisak dan memeluk tubuhnya dengan erat.

 

Seorang laki-laki berperawakan tidak terlalu tinggi, dengan wajahnya yang kecil dan rambutnya yang sedikit berwarna kecokelatan, berjalan dengan langkah yang amat pelan seakan dirinya menolak untuk dating ke tempat ini.

Dia membawa sebuket bunga lili di tangannya lengkap dengan wajahnya yang basah dengan air mata. Pria itu berusaha untuk melangkah tegap, namun kepalanya terasa begitu berat untuk diangakat. Beberapa kali dia menarik dan menghembuskan nafas tidak melalui hidung, melainkan melalui mulutnya.

Setelah terasa begitu lama akhirnya lelaki itu tiba di depan sebuah gundukan besar yang dipenuhi oleh rumput-rumput yang terawatt dengan baik. Dia meletakkan bungan lili yang dibawanya kemudian menundukkan kepalanya.

“Apa kabar, Seohyun-ah?  Tidak terasa sudah 1 tahun sejak terakhir kali aku menemuimu,” Luhan berhenti ebentar, berusaha mengatur nafasnya dengan baik kemudian melanjutkan pidato yang sudah dia siapkan sejak lama, “aku… memikirkan hal ini sepanjang malam. AKu tahu bahwa aku tidak seharusnya bersikap seperti ini… sejak 3 tahun yang lalu,” Luhan mengeluarkan seuara tawa kecil, “aku bodoh, benar kan? Aku rasa, sudah saatnya untukku melepaskanmu, Seohyun-ah. Aku tahu aku sudah sangat jahat kepadanya untuk 3 tahun terakhir ini, tapi apa yang bias aku lakukan? Aku juga snagat inign melupaknmu sejak bertahun-tahun yang lalu tapi aku… itu tidak mudah. Kau adalah cinta pertamaku dank au juga meninggalkanku begitu cepat.

Jujur saja selama ini aku selalu menyalahkannya, aku menyalahkannya atas kematianmu. Seandainya kau tidak menariknya, seandainya kau membiarkan dia yang tertabrak truk waktu itu, maka kau tidak akan berada disini, disana. Kau dan aku akan menikah dan hidup bahagia hingga kita tua nanti. Aku tidak peduli apa yang seharusnya terjadi padanya karena aku hanya membutuhkan dirimu. Tapi sejak 1 tahun yang lalu, ketika dia berusaha untuk bunuh diri untuk menebus kesalahannya padaku, padamu, aku sadar bahwa aku sedikit demi sedikit sudah melupakanmu.

Ruang khusus yang ada didalam hatiku, yang seharusnya hanya untukmu, perlahan sudah tergantikan olehnya. Aku sangat takut kehilangan dia, aku tidak ingin mengalami kehilangan untuk yang kedua kalinya. Aku selalu terjaga pada malam hari hanya untuk memastikan bahwa dia masih bernafas. Walaupun tidak mudah bagiku untuk mengatakn hal itu langsung kepadanya namun aku yakin kau pasti mengerti apa maksudku, kan? Aku rasa aku sudah mulai jatuh cinta padanya.” Luhan tersenyum manis.

“Jika 2 tahun terakhir aku mengunjungimu sebagai laki-laki yang mencintaimu, maka kali ini aku dating sebagai laki-laki yang pernah mencintaimu, sebagai sahabat yang emminta restu darimu agar aku dapat mencintai dan menjalani hidup yang bahagia dengan wanita yang aku cintai saat ini, dan untuk selamanya.” Luhan mengelus pelan gundukkan itu dan air matanya jatuh perlahan. Namun sesuatu menarik perhatian Luhan. Sebuah kertas berwarna putih tanpa amplop terletak begitu saja tepat dibawah kakinya.

Luhan mengambil kertas itu dan dirinya tersentak kaget ketika dia mendapati tulisan ‘untuk suamiku tercinta’ di kertas itu. Detak jantung Luhan terasa terhenti. Dengan tangan gemetar, dia membuka surat itu dan membacanya huruf demi huruf. Matanya terbelalak karena tulisan yang ada di kertas itu tidak lain dan tidak bukan adalah tulisan tangan milik istrinya, tulisan yang betul-betul dia kenali.

Untuk Xi Luhan, suamiku.

 

Ketika kau membaca surat ini, mungkin kau bias bernafas lega karena aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Aku minta maaf karena aku telah membawamu ke dalam kehidupan yang penuh dengan derita bersamaku. Aku tahu dan sadar bahwa aku adalah wanita yang egois. Kehilangan Seohyun nampaknya belum cukup bagiku untuk membuatmu menderita, aku bahkan memaksamu menikah denganku. Aku minta maaf. Selama 3 tahun pernikahan kita, aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah bias menggantikan Seohyun di hatimu, aku tidak akan pernah bias menjadi Seohyun dengan sempurna di matamu. Tapi aku benar-benar tidak ingin menjadi sosok lain, aku ingin menjadi diriku sendiri, berharap suatu saat kau akan menyadari bahwa aku ada tanpa harus berpura-pura menjadi sosok wanita lain, Seohyun. Tapi akhirnya aku sadar bahwa hal itu semuanya percuma.

 

Menjadi Seohyun atau menjadi diriku sendiri tidak akan pernah membuatmu melihatku, aku dimatamu hanyalah kabut yang menghalangi pemandangan indah darimu. Namun aku tidak pernah menyesal telah menikah denganmu, faktanya aku bahagia bias menghabiskan waktu 3 tahun terakhir ini bersamamu. Melihat wajahmu ketika aku bangun tidur, merasakan bibirmu yang mencium keningku setiap pagi sebelum kau berangkat kerja sudah cukup membuatku bahagia. Namun setiap malam, ketika aku mendengarmu menangis sambbibl memegang foto Seohyun membuatku sadar bahwa hanya akulah yang bahagia. Kau… dirimu sama sekali tidak bahagia, suamiku, kau tersiksa karena permainan egoisku ini.

Karena itu lah, mulai saat ini au memutuskan untuk melepaskanmu, melepaskanmu dari jerat setan yang selama ini ku mainkan. Aku sadar bahwa sudah seharusnya aku melepaskanmu dari dulu tapi apa yang bisa ku lakukan? Aku hanyalah manusia yang tidak dapat menahan rasa ingin memiliki dirimu.

 

Aku… mencintamu, suamiku. Sejak pertama aku bertemu denganmu, aku sudah mencintaimu. Aku menyukai sikapmu yang lembut, tutur bicaramu yang sopan, senyumanmu yang manis dan caramu memperlakukan ku. Sejak saat itu aku membuat janji pada diriku sendiri bahwa orang yang akan menjadi suamiku kelak adalah kau. Namun ketika tahu bahwa kau sudha lebih dulu mencintai Seohyun membuatku putus asa dan kalah dalam permainan yang telah ku ciptakan sendiri dengan diriku. Sejak saat itu aku sadar bahwa aku benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkanmu karena wanita yang kau cintai adalah Seohyun, wanita paling sempurna di dunia ini. Aku sadar bahwa aku tidka mungkin bisa menandingi nya, membayangkannyapun aku tidak mampu. Dan ketika Seohyun  pergi karena dia menyelamatkanku, aku bisa melihat dari tatapan matamu bahwa kau sepenuhnya menyalahkanku atas kejadian itu. Aku bisa melihat kebencian yang mendalam yang terpancar dari matamu ketika kau melihat bahkan hanya dengan mendengar namaku.

 

Dan ketika kau memintaku untuk menikah denganmu, aku sangat senang, seakan harapan yang telah mati seketika hidup kembali. Namun aku sadar, itu hanyalah cara Tuhan untuk membalas semua perbuatanku kepadamu dan Seohyun. Tuhan menghukumku dengan menjadikanku sebagai istrimu, istri yang bahkan tidak ada di mata suaminya. Karena itu, saat ini aku sudah sadar sepenuhnya dan aku akan melepaskanmu, suamiku. Aku akan melepaskanmu dari permainan ini. Aku akan melepaskanmu dan membiarkan dirimu hidup dengan tenang tanpa diriku. Jaga dirimu baik-baik, suamiku. Mungkin tidak seharusnya aku memanggilmu dengan kata-kata itu lagi, aku terdengar sangat-sangat bodoh.

 

Hiduplah dengan bahagia, Xi Luhan. Dan ingatlah untuk selalu makan dengan teratur, istrirahat dan tidur dengan cukup. Walaupun aku tidak ada disampingmu lagi namun kau harus tetap menjaga dirimu untuk tetap sehat. Masih banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan, hidupmu masih panjang, sayang.

 

Walaupun ini terdengar egois, bolehkah aku memintamu untuk tetap mengenangku? Mengingatku seperti kau yang tidak pernah melupakan Seohyun walaupun hanya untuk sedetik. Aku tidak meminta banyak, sishkanlah waktu mu untukku walaupun itu hanya 10 sedtik setiap harinya, setidaknya aku tahu bahwa aku masih tetap hidup dalam pikiranmu.

Jaga dirimu baik-baik. Peluk dan sayang, wanita yang mencintaimu.

 

Im Yoona

 

Luhan tidak dapat mengontrol air mata yang mengalir deras di pipinya. Dengan cepat dirinya sadar dan langsung menyebarkan pandangannya, berusaha mencari sosok istrinya smabil berteriak memanggil namanya. Sudah 10 menit berlalu namun Luhan tetap tidak menemukan Yoona. Bagaimana jika dirinya sudah terlambat? Bagaimana jika Yoona sudah meloncat dari atas tebing yang tinggi dan curan seperti ini? Tidak. Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang, berusaha membuang pikiran-pikiran jelek dari dalam kepalanya.

“YOONA!” Luhan kembali berteriak dan berlari kesana kemari seperti orang gila namun dia tetap tidak menemukan sosok istrinya itu. Luhan terjatuh lemas dan tersungkur, dia menangis dengan kencang sambil berteriak memanggil-manggil nama istri yang baru dia sadari bahwa dia sangat mencintainya.

“Luhan.” sebuah suara lembut memanggil nama Luhan, membuat pria itu menghentikan tangisannya. Luhan mengangkat kepalanya dan mendapati Yoona tengah berdiri diujung tebing dengan kepalanya yang menoleh ke belakang untuk melihat suaminya untuk kali terakhirnya. Wajah wanita itu mengkilat karena air mata nya belum mongering sepenuhnya.

“YOONA!” Luhan berteriak kencang dan buru-buru bangkit, menarik tangan Yoona dan membawa tubuh istrinya itu masuk ke dalam pelukannya. “Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku,” ujarnya masih dalam isakannya.

“Tapi aku pikir kau akan lebih bahagia jika tidak bersamaku,” jawab Yoona pelan.

“Jika kau memang berpikir seperti itu, aku tidak perlu mati, Yoona. Kau bisa meminta cerai dariku tapi tidak dengan ini!” Luhan berseru keras.

“Jadi kau mengingkan perceraian?” tanya Yoona pelan. Luhan menggeleng dengan cepat, “tidak! AKu tidak ingin berpisah darimu, Yoong. Aku mencintaimu.”

Yoona mendrorong tubuh Luhan menjauh darinya dan dengan pelan dia menggelengkan kepalanya beberapa kali, “kau tidak mencintaiku Luhan, kau tidak pernah mencintaiku.”

Luhan berjalan mendekat dengan perlahan, dengan air mata yang masih mengalir dan terus mengalir di wajah putih mulusnya. “Percayalah padaku, Yoong. Aku mecintaimu. Aku sadar bahwa aku sudah lama mencintaimu, hanya saja selama ini aku terlalu bodoh dan melankonis.”

Yoona menghentikan kepalanya, berusaha mencari kebohongan di dalam mata suaminya namun semua itu percuma. Seberapa besar usaha Yoona untuk mengelak dan meyakinkan dirinya bahwa Luhan sedang berbohong namun kebohongan itu sediri tidak dapat dia temukan dari dalam mata suaminya yang basah.

“Aku mohon, Yoong. Percayalah padaku, kembalilah padaku. Kita bangun rumah tangga ini dari awal, aku ingin menikah denganmu sekali lagi, Yoong. Aku merasa pernikahan kita selama ini hanyalah sebuah sandiwara, permainan. Namun kali ini, aku ingin benar-benar menikah denganmu, menikah dengan Im Yoona, bukan menikah dengan wanita yang selama ini berpura-pura menjadi Seo Joohyun.”

Tangis Yoona yang sudah ditahannya selama beberap menit akhirnya pecah. Dinding pertahanannya telah runtuh karena kata-kata Luhan. Yoona yang sudah tidak bisa merasakan kakinya lagi hanya pasrah ketika tubuhnya jatuh ke tanah. Dengan cepat Luhan menghampiri wanita itu dan memeluknya dengan erat, sangat erat seakan ada sesuatu yang hendak mengambil wanita itu darinya.

“Kita akan menikah, Yoong, setelah iu kita akan tinggal di pinggir pantai seperti yang selalu kau inginkan. Kita akan hidup bahagia dengan anak-anak kita kelak. AKu berjanji aku akan membahagiakanmu, Yoona. Aku berjanji.” Luhan berkata tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Yoona.

“Benarkah? Benarkah kau akan melakukan itu semua?” tanya Yoona pelan. Luhan menggangguk dengan semangat walaupun tidak mengeluarkan suara apa-apa.

“Luhan, bisakah kau mengatakan hal itu sekali lagi?” pinta Yoona.

“Apa? Apa yang harus aku katakan, Yoong? Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan.”

“Katakan sekali lagi bahwa kau mencintaiku.”

“Aku mencintaimu, Yoong. Aku benar-benar mencintaimu.”