[OneShot] Even Death Cannot Tear Us Apart

Even Death Cannot Tear Us Apart
Tiffany Hwang - Jung Yunho

Tiffany dan Yunho menikah 3 tahun yang lalu. Kehidupan keduanya terasa amat sempurna hingga akhirnya Tiffany divonis menderita kanker rahim akut 1 tahun yang lalu dan ternyata hal itu pula  lah yang menyebabkan keduanya belum memiliki anak.

 Sudah hampir 1 bulan Tiffany dirawat di rumah sakit karena keadaannya yang makin serius dan tidak untuk 1 detik pun Yunho meninggalkan sisi istri tercintanya. Dia meninggalkan pekerjaan, keluarga dan semua hal hanya untuk berada di sisi Tiffany dalam setiap detik dalam hidupnya.

Setiap malam Yunho selalu berdoa, jika memang Tuhan tidka bisa membuat Tiffany sembuh maka bawalah dirinya bersama istrinya sehingga mereka bisa tetap bersama walaupun tidak di dunia.

 Yunho yang kembali ke kamar pasien sehabis berdoa menemukan istrinya yang ternyata sudah bangun.

“Anyyeong yeobo. Bagaimana tidurmu?” tanya Yunho kemudian menicum kening istrinya.

“Baik.” jawab Tiffany dan melemparkan senyumnya pada Yunho. “Oppa.” panggil Tiffany.

“Ehm?”

“Bisakah aku minta tolong padamu?” ujar Tiffany dengan suara serak. “Bawa aku keluar dari sini, oppa.” Tiffany memohon dengan suara yang lemah. Bukan hanya suara namun dia bahkan tidak sanggup untuk berjalan maupun duduk dengan sendirinya.

“Kau masih sakit, Fany-ah.”

“Aku mohon oppa, aku ingin menghabiskan masa-masa terakhirku bersamamu, bukan disini, bukan diruangan ini.” pintanya lagi. Dengan berat Yunho mengabulkan permintaan Tiffany. Setelah mengurus keperluan administrasi, Yunho membawa Tiffany keluar dengan kursi roda.

“Kita pulang ke rumah?” tanya Yunho sambil memasangkan safety belt untuk Tiffany. Wanita itu menggeleng lemah dan tersenyum. “Aku mau ke pantai, pantai tempat pertama kali kita berkencan.”

“Ke pantai? Tapi itu jauh sekali dari sini, kau bisa kelelahan.”

Tiffany mengangkat tangannya lalu membelai pipi Yunho. “Aku mohon oppa, lakukan ini untukku.” Yunho hanya bisa menghela nafas berat dan menuruti kehendak istrinya.

Jarak antara rumah sakit dan pantai kira-kira 3 jam perjalanan. Sambil menyetir, sesekali Yunho melirik Tiffany yang tidak tidur melainkan memandang keluar jendela.

“Fany-ah, kenapa kau tidak tidur?” tanya Yunho pelan.

Tiffany memutar kepalanya dan memandang suaminya, “aku tidak ingin melewatkan pemandangan indah ini tanpa melihatnya.”

Perlahan airmata Yunho turun dan membasahi pipinya. “Kenapa kau menangis? Aku lebih suka melihatmu tersenyum.”

Dengan segera Yunho menghapus airmatanya dan tersenyum ke arah istirnya. “Bagaimana? Apa aku terlihat lebih tampan?”

Tiffany mengangguk pelan dan tersenyum, “Suamiku adalah pria yang paling tampan.”

Setelah 3 jam akhirnya mereka tiba dipantai. Karena tidak kuat berjalan maka Yunho menggendong Tiffany. Hati Yunho miris ketika merasakan tubuh istrinya yang makin lama semakin mengurus.

“Oppa, apa kau tidak lelah?” tanya Tiffany.

“Aigoo~ tentu saja aku lelah! Sebenarnya apa saja yang makan, Hwang Miyoung? Tubuhmu berat sekali.” Yunho berbohong.

“Benarkah? Kalau begitu sebaiknya aku diet.” jawab Tiffany.

“Andwe~ Aku lebih rela lelah karena menggendongmu daripada membiarkanmu menderita karena diet.” jawab Yunho. Tiffany mengeratkan keduatangannya di pundak Yunho.

“Kenapa? Kau merasa tidak enak badan?” tanya Yunho cemas. “Annyieyo oppa, aku hanya ingin memelukmu.” jawab Tiffany pelan. Yunho akhirnya duduk di atas pasir kemudian memangku Tiffany dan memeluknya.

“Aku takut oppa.” ujar Tiffany lirih.

“Apa yang kau takutkan Fany-ah? Ada aku disini.” suara Yunho bergetar karena menahan tangis.

“Aku takut terpisah darimu. Jika aku mati nanti, aku tidak akan bisa bersamamu lagi. Aku takut menjalani kehidupan setelah ini sendirian.” ucap Tiffany dengan berlinang air mata.

“Babo! Siapa bilang kau akan mati? Siapa bilang kau akan terpisah dariku? Kita akan selalu bersama-sama–“

“Dan tidak ada yang bisa memisahkan kita baik maut sekalipun. Sama seperti yang oppa ucapkan di hari pernikahan kita. Dan sepertinya ucapan itu tidak akan terwujud.” Tiffany menarik nafas panjang.

“Fany-ah, tidak bisakah kau membawaku pergi bersamamu nanti?” ujar Yunho sambil tetap menahan tangisnya hingga membuat dadanya sedikit sakit dan sesak.

“Oppa, kau harus tetap melanjutkan hidupmu. Menikah, memiliki anak seperti yang selalu kau impikan.” jawab Tiffany pelan.

“Annyi, aku tidak akan pernah menikah lagi!” Yunho berkata kencang, sakit di dadadnya semakin menjadi.

“Oppa, jika aku mati nanti oppa akan tetap mengingatku kan? Oppa tidak akan pernah melupakanku kan?” Tiffany mengangkat wajahnya dan memandang wajah Yunho yang basah.

“Gadis bodoh! Kau tidak akan mati.” Yunho mencubit kecil hidung mancung Tiffany dan dia mendekatkan wajahnya ke arah Yunho. Tiffany memberikan ciuman terakhirnya kepada Yunho sebelum akhirnya dia menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Yunho merasa semakin lama tubuh Tiffany semakin berat dan merosot dari pelukannya. “Fany-ah? Fany-ah.” Yunho mengguncang-guncang tubuh istrinya yang sudah tidak lagi bernyawa.

“Fany? Fany-ah. Tiffany! HWANG MIYOUNG!!” Yunho berteriak sabil mengguncang-guncang tubuh Tiffany dengan kencang.

“Tiffany!” Yunho memeluk tubuh Tiffany sambil menangis. Tiba-tiba dadanya yang dari tadi sakit terasa semakin sakit dan kemudian dalam hitungan detik, tangisan Yunho berhenti seiring matanya yang menutup dan keduanya jatuh.

* * *

“Fany? Fany? Tiffany!” Yunho berteriak kencang mencari-cari sosok Tiffany di sebuah tempat yang terlihat putih.

“Aku disini oppa, aku selalu ada disini, disisimu.” disebelahnya Tiffany dengan gaun serba putih berdiri dan menjawab panggilan Yunho dengan suara lembutnya dan perlahan terasa sebuh tangan menggenggam tangannya. 

“Fany, kita dimana?” tanya Yunho bingung dan terus mengedarkan pandangannya ke ruangan yang seakan tidak memiliki sudut.

“Oppa, Tuhan menjawab permintaanmu.” ujar Tiffany dan menggenggam erat tangan Yunho. Tiffany dan Yunho berjalan ke arah cahaya terang dan akhirnya apa yang diucapkan Yunho pun betul, tidak ada yang bisa memisahkan mereka bahkan maut sekalipun.

-The End-

A/N: FF ini aku bikinin atas request khusus dari Felicia Dwi yang jadi Hardcore shipper nya YunFany. Aku tau kamu mintanya happy ending tapi mood ku lagi melow jadi ya ff inilah yang tercipta. Emang sih keduanya mati tapi yang jelas mereka ga aku bikin terpisahm hehehe~ I hope you like it dongsaeng ^^

Read, love and COMMENT! 

Iklan

12 thoughts on “[OneShot] Even Death Cannot Tear Us Apart

  1. uuu to twiitnyaaa~
    tapi, onnie ada typo ya? ‘Yunho merasa semakin lama tubuh Tiffany semakin berat dan merosot dari pelukannya. “Fany-ah? Fany-ah.” Yonghwa mengguncang-guncang tubuh istrinya yang sudah tidak lagi bernyawa.’ itu harusnya yunho kan? eheheh
    nice ff onnie, nyentuh begeteh u,u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s