ff: The Real of Me part 7

Title: The Real of Me part 7

Cast – main: SHINee Key, Song Yoo Jin (reader)

minor: Sohee

Genre: Romance

Rating: T

Yoojin’s POV

“Yeobseyo? Yoojin-ah.” suaranya terdengar dari seberang.

“Ye..obse..yo.. Kibum-ssi.”

“Ne. Kau tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa. Begini, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu.” tanyaku pelan.

“Bicara apa?”

“Bisa tidak kalau nanti sore kau temui aku di taman?” pintaku.

“Taman? Nanti sore ya?”

“Kenapa? Kau tidak bisa?”

“Annye, aku bisa kok. Nanti sore kita ketemu di taman ya.”

“Ne. Khamsahimnida.” aku menutup telponku dan kulihat Sohee sudah tersenyum lebar.

“Bagus sekali Yoojin-a!” dia bertepuk tangan dan tersenyum lebar seperti orang gila. “Nnati sore kita bertemu di taman ya. See you dear.” dia melambaikan tangan serta senyumnya yang mengerikan.

“Yoojin-a.” panggil Jiyeon dari luar. “Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya cemas.

“Aku tidak apa-apa Jiyeon-a.”

“Kalau begitu sebaiknya kita masuk kelas saja.” Jiyeon membopongku berjalan hingga ke kelas. Pikiranku kacau, entah apa yang nantinya akan terjadi.

***

Kulirik jam tanganku, sekarang sudah jam 4. Sudah hampir 1 jam aku menunggu Key disini tapi dia belum juga datang. Aku melihat ke ujung taman, di bawah pohon rindang yang ada disudut taman, Sohee dan teman-temannya sudah menunggu untuk bertemu dengan Key. Entah yang ku lakukan ini benar atau tidak, tapi aku takut kalau aku tidak melakukannya dia akan melakukan sesuatu pada Key dan anggota SHINee yang lainnya seperti yang telah diancam padaku.

“Sudah menunggu lama?” tanya seseorang dari belakang. AKu memutar badanku ke belakang dan kulihat Key sudah memakai penyamaran lengkap.

“Disini tidak aman, sebaiknya kita pindah ke restoran depan saja ya.” bisiknya dan menarik tanganku. Aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya menurutinya. Sempat ku tolehkan kepalaku ke belakang dan bisa kulihat Sohee dengan wajah murkanya.

Setelah sampai di restoran itu, kami memilih tempat duduk yang paling ujung agar orang-orang tidak terlalu leluasa melihat. Key melepas satu persatu peralatan menyamarnyanya, topi, syal, sarung tangan, dan kacamata.

“Maaf ya aku harus menyamar seperti ini.” ujarnya setelah selesai dengan semua benda-benda itu. Aku hanya bisa tersenyum menjawabnya. Ku lihat dari luar jendela Sohee dan teman-temannya hendak berjalan masuk ke restoran setelah mereka mengikuti kami dari belakang.

“Sebenarnya yang ingin ku bicarakan itu…”

“Kita pesan makan dulu ya. Kau pasti lapar kan sudah menungguku hampir 1 jam?” tanyanya dengan menu yang sudah ada ditangan.

“n..ne..” jawabku pelan. Kulihat Sohee cs sudah semakin dekat.

“Kibum-ssi sebenarnya…”

“…Kau mau makan apa? Aku mau sup soondae saja. Kalau kau?”

“Samakan saja. Kibum-ssi, aku mau bicara…”

“Yoojin-ah.” panggil Sohee dari belakang sebelum aku sempat bicara, dia datang sendiri. Ku rasa para dayang-dayangnya disuruh menunggu di luar. Aku yakin wajahku pasti amat pucat sekarang. Aku berusaha melirik Key yang ekspresi wajahnya sudah berbeda.

“Kau makan disini juga?” tanya Sohee sambil tersenyum manis. Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul.

“Omo!! Key.. SHINee?” Sohee memasang tampang pura-pura kaget. Key tersenyum dan menunduk singkat padanya.

“Kalian sedang apa disini? Pacaran ya?” Sohee menyenggol pundakku seakan-akan kami ini benar-benar akrab.

“A.. annyieo.” jawabku pelan.

“Kau ini! Bukannya kita ini sahabat? Kenapa kau merahasiakan hal ini padaku?”

“Oh, jadi kalian sahabat?” tanya Key, dia terlihat tertarik pada topik pembicaraan. Ku mohon Key, jangan bertanya lagi, batinku.

“Iya. Kami sudah bersahabat sejak lama. Iya kan Yoojin?” dia mencengkram punggungku dengan kuku-kukunya yang panjang.

“I..iya.”

“Wah. Aku senang melihat Yoojin memiliki sahabat. Kalau begitu ayo duduk. Kita makan bersama.” tawar Key. Tanpa ba bi bu, Sohee langsung duduk di sampingku dan kami pun memesan makanan.

“Iya, jadi kami sudah bersahabat sejak sekolah dasar. Kami sangat akrab, bahkan sudah seperti saudara kandung.” cerita Sohee pada Key saat kami mulai makan. Key terlihat tertarik dengan ceritanya sehingga dia banyak bertanya.

“Oh. Keren.”

“Yoojin juga benar-benar menyukaimu Key-ssi. Di kamarnya penuh dengan postermu malah.” bual Sohee lagi.

“Wah, chinja?”

“Ehm.” angguk Sohee. Kami hanya berbicara hal-hal yang tidak menarik selagi makan.

“Yoojin-ah, kau bisa temani aku ke toilet?” pinta Sohee setelah kami selesai makan.

“Oh? iya.” aku mengangguk dan bergegas berdiri dari tempat duduk.

“Kibum-s..”

“Key-ssi, kami permisi dulu ya.” pamit Sohee memotong kalimatku. Aku bergegas jalan masuk ke toilet disusul olehnya.

“Bagus sekali Yoojin.” dia bertepuk tangan terlihat amat puas. “Tapi apa kau tidak bisa tersenyum sedikit?”

“Kenapa kau melakukan ini padaku?”

“Kenapa? Kau tanya kenapa? Ehm.. kenapa ya?” dia memutar bola mata sambil memegang dagunya.

“Kau menakutkan.” ucapku pelan.

“Hahaha… Menakutkan?” dia tertawa sambil mengangguk-angguk yang membuatnya benar-benar terlihat benar-benar menakutkan.

“Ku tunjukkan padamu apa yang disebut menakutkan!” dia mendorongku masuk ke dalam bilik toilet dan memberikan senyum setannya.

“Kau mau apa?” tanyaku. Dia melambaikan tangannya dan menutup pintu serta mengunciku dari luar.

“BUKA!! BUKA PINTUNYA!” aku berteriak sekeras mungkin.

“Yoojin-a, kau masih lama di dalam? Kalau begitu aku keluar duluan ya.” ucapnya dari luar.

“SOHEE!! Aku mohon buka pintunya!” pintaku lagi tapi percuma, sepertinya dia sudah keluar dari toilet.

Key’s POV

Posterku? Kamarnya penuh dengan posterku? Apa jangan-jangan Yoojin punya perasaan yang sama denganku? aku membatin dalam hati. Aku harap perasaanku kali ini tidak hanya bertepuk sebelah tangan. Aku berani jamin tampangku pasti sudah seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri sekarang.

“Kenapa mereka lama sekali sih?” gumamku. Aku menjulurkan kepalaku ke arah toilet dan yang kulihat pertama kali adalah temannya Yoojin, Sohee. Dia tersenyum ketika melihatku. Sebenarnya aku agak kecewa melihat dia yang muncul dan bukan Yoojin, tapi aku tetap membalas senyumannya.

“Yoojin masih berada di dalam, dia menyuruhku untukkeluar duluan.” ucapnya manis seakan tahu pikiranku. Aku mengangguk mengerti.

“Key-ssi, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Ini mengenai… Yoojin.” katanya setengah berbisik.

“Yoojin? Ada apa?”

“Sebenarnya aku tidak tahu apakah aku pantas memberitahumu atau tidak, tapi aku benar-benar sayan pada Yoojin dan aku ingin agar dia merubah sifat buruknya ini.” katanya lagi.

“Sifat buruk? Maksudmu?” aku benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini berlangsung.

“Aku memberitahumu hal ini karena aku sayang pada Yoojin dan aku peduli padamu. Sebenarnya…” kata-katanya terlihat berat ketika bicara.

“…sebenarnya kau hanya dimanfaatkan saja oleh Yoojin.” dia tertunduk sehabis mengatakan hal itu. Aku masih tidak mengerti. Memanfaatkan? Maksudnya?

“Yoojin memiliki satu kebiasaan yang buruk. Ingat waktu aku bilang di kamarnya penuh dengan postermu? tanyanya, aku mengangguk. “…dia bukan hanya mengidolakanmu tapi dia terobsesi padamu.” ungkapnya. Terobsesi? batinku.

“Yoojin itu anak yang sulit bergaul karena dia terlalu pendiam. Di sekolah kami ada suatu gank yang berisi anak-anak yang bisa dikatakan populer. Karena ingin menjadi populer, Yoojin diminta untuk memiliki kenalan-kenalan orang-orang terkenal seperti mereka.” katanya.

“Awalnya aku sudah bilang pada Yoojin untuk tidak melakukan hal itu tapi dia tetap bersikeras. Lalu kemarin aku melihat berita kalian di internet kemudia aku tahu kalau…”

“…kalau aku lah orang yang digunakannya untuk menjadi populer di sekolah?” ucapku. Dia tertunduk dan mengangguk.

“Kenapa kau memberitahu ku tentangini? Bukannya kalian sahabat? Kenapa kau tidak melindunginya?” tanyaku.

“Aku memang sahabatnya. Tapi kalau aku terus menerus melindunginya itu tandanya aku tetap membiarkannya bersikap tidak baik.” terangnya.

Yoojin? Dia memanfaatkanku hanya demi ketenaran? Jadi selama ini apa yang dikatakannya adalah bohong? Ternyata dia sama saja seperti orang lain, menyukaiku sebagai Key, bukan sebagai Kibum.

“A..Aku permisi dulu.” aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar restoran. Yoojin, ternyata aku salah menilaimu.

Yoojin’s POV

“BUKA! SIAPAPUN YANG ADA DILUAR TOLONG BUKA!” entah sudah berapa lama aku berteriak sambil menangis.

“Tolong buka.”

KLEK. “Nona tidak apa-apa?” tanya seorang ibu-ibu cleaning service.

“Saya tidak apa-apa. Terima kasih bu.” ucapku dan aku langsung berlari ke luar. Ku lihat hanya ada Sohee di meja dan Key sudah tidak ada, begitu juga dengan peralatan menyamarnya.

“Mana Key?” tanyaku pada Sohee. Dia memainkan gelas yang sedang dipegangnya sambil tertawa licik.

“Key? Sudah pulang.” jawabnya santai.

“Apa yang kau katakan padanya?” tanyaku lagi. Dia menatapku sambil tersenyum, senyum manis yang licik.

“Aku? AKu tidak mengatakan apapun padanya.”

BRAK! Aku memukul meja karena sudah benar-benar kesal.

“BOHONG! Apa yang sudah kau katakan padanya?” dia tertawa melihatku yang sudah emosi.

“Kalau kau mau tahu kenapa kau tidak bertanya langsung padanya?” dia kembali tertawa seakan dia sudah memenangkan pertandingan.

“Aaah!” aku meraih tasku dan berlari keluar berusaha mengejar Key tapi aku tidak melihatnya. Ku coba unutk menelponnya tapi telponku malah di reject dan kemudian handphone nya dimatikan.

Key, aku mohon. Jangan percaya kata-kata yang sudah dikatakan oleh wanita itu.

-TBC-

Maaf kalo uodate ny agak lama dan ceritanya juga ga panjang-panjang abis aku ga bisa nulis cerita yg panjang sih. keke.. happy reading dan jgan lupa komenny ya.

Iklan

4 thoughts on “ff: The Real of Me part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s